Mengapa Anak Saya Tidak Suka Membaca?

Anda begitu ingin anak-anak anda suka membaca. Untuk mencapai tujuan itu anda membeli buku-buku yang kira-kira menarik untuk mereka. Bahkan, usaha anda tidak sampai di sana. Anda juga membuat rak buku khusus yang bagus sekali bagi mereka. Tapi … tapi mengapa mereka tidak tertarik juga membaca buku?

Jika ini adalah permasalahan anda, maka selamat, anda tidak sendirian. Banyak teman-teman saya yang mengeluhkan hal yang sama. Mereka sedih campur kesal karena anak tidak juga punya mood membaca padahal setiap bulan anak-anak selalu dipasok bacaan baru. Kira-kira salahnya di mana ya, lalu bagaimana caranya supaya anak tertarik membaca semua buku itu?

  1. Begini, kegemaran membaca tidak ujug-ujug ada. Seperti tanaman, kegemaran ini harus disemai dan dirawat baik-baik supaya tumbuh kuat. Supaya pertumbuhannya tidak terganggu, kita harus menyingkirkan rumput-rumput yang berpotensi merampas sari makanan untuk sang tumbuhan. Nah, kegemaran membaca ini begitu juga. Harus dipupuk sejak anak masih kecil sekali. Rutinlah membacakan buku setiap malam untuk dia. Biasakan ia memegang buku-buku dari kecil. Jika ini dilakukan, lama-lama, buku akan jadi benda favoritnya. Tapi … bagaimana kalau anak sudah besar? Sudah sekolah. Bagaimana cara membuat dia suka membaca? Maka, sampailah kita ke poin kedua.
  2. Coba ingat-ingat lagi. Saat kita membeli buku, apakah kita membeli buku berdasarkan selera kita atau selera dia? Teman saya yang anaknya tidak sedikit pun menyentuh buku-buku yang ia belikan, umumnya membelikan buku-buku pengetahuan populer semata untuk anaknya. Dia membelikan buku menurut seleranya sendiri, bukan selera anaknya. Itulah sebabnya anaknya tidak suka. Bagi anak yang belum terbiasa membaca, buku-buku pengetahuan semacam itu, meski disajikan populer, akan terasa berat bagi mereka. Berilah bacaan yang ringan-ringan saja dulu. Misalnya komik. Hah? Komik? Iya, untuk mencapai tujuan awal, yaitu untuk membuat dia akrab dengan buku. Pergilah bersama dia mencari komik-komik yang bagus dan cocok. Seleksilah komik yang akan dia baca. Saya biasanya memberikan komik Chibi Maruko Chan atau Miiko untuk anak-anak saya.
  3. Jangan paksa anak untuk langsung membaca buku yang teksnya banyak. pada mulanya, anak lebih menikmati cerita yang adegannya ditampilkan secara visual. Alifa putri saya, sampai usianya yang kedelapan sekarang ini, masih lebih suka membaca buku yang ilustrasinya lebih banyak dan lucu. Di satu sisi, dia mulai tertarik membaca novel tanpa ilustrasi, meski setelah beberapa bab dia berhenti dulu, baru dilanjutkan kalau dia sudah mood lagi. Saat ini dia sedang dalam masa peralihan dari komik menuju novel anak yang 100% teks. Yaaah … saya rasa, hal seperti ini juga terjadi pada anak-anak lain ya.
  4. Berilah dia majalah anak-anak. Ini adalah solusi lain untuk anak yang sudah besar tapi belum gemar membaca. Majalah anak-anak itu kan isinya disajikan ringan dan banyak gambarnya. Biasanya anak-anak suka.
  5. Kalau ke toko buku, biarkan dia memilih bukunya sendiri. Tugas orang tua di sini hanya memastikan kontennya pas dengan anak.
  6. Batasi interaksinya dengan tv dan gadget. Jangan biarkan anak melompat ke budaya visual sebelum budaya baca tulis terbentuk dalam dirinya. Membaca itu besar pengaruhnya untuk mendorong kreativitas, kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir secara baik. Sekadar bagi pengalaman saja. Saya sudah lama mencabut kabel antena di rumah saya. Anak-anak cuma boleh menonton film setiap Sabtu dan Minggu, itupun film yang saya seleksi. Mereka hanya boleh main gadget (untuk urusan hiburan) setiap Sabtu dan Minggu juga, dengan waktu yang sangat saya batasi dan situs yang saya ketahui bagaimananya. Umumnya anak-anak saya buka Youtube khusus channel-channel yang memang sengaja saya subscribe, misalnya, channel film animasi anak-anak atau channel yang menyajikan aneka kreativitas.
  7. Bersabarlah. Tak ada yang instan di dunia ini selain mie instan. Jadi, doronglah dia terus untuk menyukai buku tanpa memaksanya. Orang tua pun harus memperlihatkan kesukaan mereka dengan buku. Misalnya, dengan membeli buku bersama anak. Orang tua beli buku, anak juga. Nah, saat melihat orang tuanya baca buku, anak juga akan tertarik untuk melakukan apa yang dilakukan orang tuanya.

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.