Q & A: Apa Itu Homeschooling?

Ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan kepada saya setiap kali saya menjawab pertanyaan orang-orang, anak saya kelas berapa. Biasanya setelah mendengar jawaban ini mereka akan keheranan. Memang sih, sebagian di antara yang bertanya sudah pernah mendengar tentang homeschooling, tapi tidak betul-betul tahu makhluk apa homeschooling ini sebenarnya.

Sebenarnya definisi homeschooling ini juga tidak seragam ya, tapi setidaknya ada pengertian dasarnya, yaitu, sebuah sistem belajar yang di-manage langsung oleh orang tua. Umumnya, proses belajar berlangsung di rumah, nah itulah sebabnya kenapa disebut home+schooling. Padanan dalam bahasa Indonesia adalah sekolah rumah, sebuah sekolah yang berlangsung di rumah. Penambahan kata schooling di belakang home mengindikasikan adanya sebuah school, atau sistem pendidikan/sistem pelatihan.

Homeschooling tidak mesti membuat anak belajar di rumah tok. Seperti halnya belajar di sekolah yang nggak melulu di kelas saja. Belajarnya di mana ya tergantung kebutuhan ya. Gurunya juga nggak mesti orang tua. Kalau orang tua nggak mampu masa harus maksain diri. Contoh nih, anak pingin belajar piano sementara orang tua nggak bisa, solusinya tentu masukin anak ke les piano. Anak pingin belajar nulis, sementara orang tua nggak bisa, solusinya tentu dengan membawa anak belajar menulis ke guru yang bisa.

Dalam sistem belajar ini, orang tua juga mesti belajar untuk memanfaatkan semua sumber daya yang ada untuk mengajari anak. Internet bisa dimanfaatkan seluasnya. Sekarang ini banyak kelas-kelas belajar online yang bisa diikuti, misalnya di khanacademy.org, IXL, Jam, ruangguru dan lainnya. Tak cuma itu, di Youtube juga berlimpah video-video pendidikan. Dengan bahan yang begitu banyak, proses belajar mengajar menurut saya mestinya jadi lebih mudah.

Pendek kata, homeschooling adalah sebuah sistem belajar mandiri. Orang tua dan anak bebas menentukan sendiri bagaimana homeschooling itu mesti dijalankan. Saya akan kasi dua contoh pelaksanaan homeschooling nih, satu di keluarga saya sendiri, dua di keluarga sahabat saya.

Saya menjalankan homeschooling secara lebih terstruktur. Ada kurikulum dan materi yang saya rancang. Setiap minggu anak-anak membuat proyek-proyek belajarnya sendiri. Mereka juga banyak belajar secara hands on atau mengerjakan sesuatu. Selain itu mereka juga sering saya ajak bepergian, ikut saya. Biasanya kalau saya lagi punya kerjaan di luar daerah dan mesti pergi selama beberapa hari, saya akan ajak anak-anak. Tujuannya ya untuk membuka wawasan mereka akan daerah-daerah baru dan kulturnya. Satu lagi, karena dunia saya adalah dunia buku, maka mereka kerap saya ajak ke berbagai acara sastra atau yang ada kaitannya dengan buku.

Lain saya, lain teman saya. Dia cenderung mengajar secara random. Prinsip mengajarnya adalah: terserah lu dah, Nak, mau belajar apa. Pokoke gue fasilitasin. Mumet gue mikir segala macam kurikulum kayak si Maya itu.  Anaknya itu sangat gemar matematika, jadi dia mula-mula ngajarin anaknya bikin aneka struktur bangunan yang merupakan dasar-dasar belajar geometri. Seingat saya pelajaran itu dia kasi waktu anaknya masih umur 5-7 tahun. Kemudian, setelah anaknya bisa membaca dan menulis, dia ajarkan anaknya belajar matematika di situs-situs belajar online. Untuk mengajarkan bahasa pada anaknya, dia rajin membelikan buku-buku cerita. Nah, karena dia juga suka desain (usahanya adalah mendesain tas dan baju), anaknya juga diajarin cara-cara mendesain. Walhasil anaknya tumbuh dengan pengetahuan yang kompleks. Ya kuat di seni, bahasa dan matematika. Sekarang anaknya sudah berumur 16 tahun dan sudah jadi programmer di Envato. Tapi, meski dia ngajarnya secara random, basic pelajaran tetap dia perhatikan. Jadi, yang pertama dia ajar itu adalah dasar-dasar ilmu, konsep-konsepnya. Baru setelah itu dia ngajarin yang lainnya. Jadi, sebenanrya nggak random-random amat sih. Ada semacam struktur yang jelas juga dalam proses belajar mengajarnya.

Nah, bagi Anda yang kepikiran mau meng-HS-kan anak karena berbagai hal, bisa menjalankan metode belajar ini sesuai karakter keluarga. Apa mau yang lebih terstruktur kayak yang saya lakukan, atau yang random aja (tapi tetap dengan landasan pengetahuan) kayak teman saya itu. Yang penting semua orang di keluarga itu enjoy menjalaninya.

 

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.