Q & A: Bagaimana Memulai Homeschooling

Ini pertanyaan yang cukup sering diajukan para orang tua yang berniat mengajar anak-anaknya dengan metode homeschooling.

Ada dua jenis keluarga yang menyelenggarakan homeschooling:

  1. Keluarga yang meng-hs-kan anaknya sejak usia prasekolah. Anaknya ini belum pernah bersekolah formal
  2. Keluarga yang meng-hs-kan anaknya setelah anaknya mengecap dunia sekolah formal. Karena sesuatu dan lain hal, mereka mulai berpikir untuk meng-hs-kan anak. Penyebabnya macam-macam, bisa karena sekolah terlalu jauh dari rumah, orang tua sering pindah-pindah tugas, anak nggak mood sekolah, atmosfer sekolah anak yang dirasa kurang mendukung anak, dan lainnya.

Nah, karena saya mengalami kedua hal di atas (anak pertama saya sempat sekolah, lalu mogok. Anak kedua dan ketiga saya akhirnya di-hs-kan dari awal), saya akan berbagi pengalaman pribadi.

  1. Memulai HS sejak awal. Satu hal yang perlu kita ingat, antara schooling dengan homeschooling sesungguhnya sama saja. Perbedaannya cuma terletak pada siapa penyelenggaranya. Sekolah diselenggarakan oleh sebuah tim yang setiap anggota timnya memiiki latar berbeda. Sekolah juga bagian dari sebuah sistem (negara). Sementara homeschooling diselenggarakan oleh keluarga. Apa yang dipelajari dalam hs bisa sama atau berbeda dengan yang dipelajari di sekolah, tergantung penyelenggaranya (orang tua). Berbeda dari di sekolah yang semua anak sudah diatur mempelajari apa, di rumah, anak dan orang tua memiliki kebebasan-kebebasan untuk menentukan mata pelajarannya sendiri.

Tujuan hs dengan sekolah sama, yaitu sama-sama bertujuan mendidik anak supaya menjadi manusia yang beriman, bermartabat, berbudi pekerti luhur  dan cerdas. Untuk mencapai tujuan ini dirancanglah metode dan materi yang pas. Apa saja itu? Nanti … sebelum ke sana, kita akan membahas hal paling fundamental dulu, yaitu visi.

Apa visi anda untuk anak-anak? Visi itu sederhananya adalah harapan. Anda ingin anak-anak Anda menjadi insan yang bagaimana nanti setelah besar? Misal, Anda ingin anak tumbuh menjadi insan yang beriman pada Allah SWT dan cerdas otaknya. Dia menjadi insan yang berilmu dan beramal. Nah untuk mewujudkan visi ini, Anda perlu menguraikan hal-hal dalam visi Anda itu sebagai berikut.

a. Insan yang beriman kepada Allah SWT itu maksudnya apa? Taruhlah jawaban Anda adalah, insan yang taat beribadah kepada Allah. Lalu, bagaimana cara membuat anak menjadi insan yang taat beribadah? Dari sini Anda mulai merancang materinya. Misal: rutin mendirikan salat berjamaah. Mengajar anak supaya hapal ayat-ayat Alquran, menceritakan kisah nabi-nabi, menumbuhkan kesadaran pada anak mengenai betapa sempurnanya Tuhan menciptakan alam semesta, dan lainnya.

b. Insan yang cerdas otaknya itu maksudnya apa? Taruhlah jawaban Anda adalah, anak yang bisa menjadi pemecah masalah/solutif, berpikir kritis dan kreatif. Nah, bagaimana cara membuat anak tumbuh menjadi insan yang seperti ini? Anda bisa merancang materinya, misal: Untuk mendapatkan anak yang bisa berpikir kritis, tentu pertama-tama orang tua harus menjadikan dia seorang pembaca terlebih dahulu. Bagaimana membuatnya jadi pembaca? rajinlah menyetok buku-buku untuknya. Rutinlah membacakan buku untuknya, dan sebagainya. Kemudian bagaimana dia bisa menjadi seorang yang solutif dan kreatif? Berilah fasilitas untuk dia mengerjakan segala sesuatu di rumah, misal, membuat craft dari aneka barang (botol plastik, pipet, stik es krim, kertas, plastisin, dll), membuat robot (dengan menyediakan lego), merancang bangunan (dengan menyediakan balok-balok kayu, atau kotak-kotak mini), dll.

Dengan begitu, pelajaran hs yang diselenggarakan dari awal, bisa dimulai dari materi yang dirancang berdasar visi ini

2. Memulai HS untuk anak yang pernah sekolah

HS untuk anak yang pernah sekolah, sesungguhnya mirip dengan hs untuk anak yang belum pernah sekolah. Bedanya, setelah ia berhenti sekolah, orang tua jangan mengasupnya dulu dengan berbagai pelajaran. Biarkan dia bermain sesukanya. Ajaklah dia untuk bepergian, ke tempat-tempat yang menyenangkan, misal ke pantai, danau, pergi berenang, ke perpustakaan, dan lain-lain. Setelah kira-kira 3-6 minggu (bisa lebih cepat atau lebih lama, tergantung sikon), orang tua mulai pelan-pelan menariknya ke dunia homeschooling. Bagaimana caranya?

  1. Mula-mula ajaklah dia belajar di luar. Misalnya: belajar memotret pantai atau bangunan tua dari berbagai sudut. Anak-anak (menurut pengalaman saya), biasanya senang melakukan hal ini. Kalau lagi ada festival di daerah Anda, ajak dia untuk belajar memotret festival dari berbagai sudut pandang. Di hs keluarga saya, ada materi fotografi. Kami dalam waktu-waktu tertentu pergi keluar dan anak-anak belajar memotret dengan kamera poket. Anak-anak nanti akan belajar mengolah hasilnya di komputer. Cara lainnya, kalau ada kursus memasak misalnya (di tempat saya ada beberapa lembaga yang menyelenggarakan kursus memasak roti dan pizza buat anak), anak-anak bisa diikutkan. Biasanya anak-anak juga sangat menyukainya.
  2. Setelah selama 2-3 minggu belajar di luar, baru anak-anak mulai mempelajari hal-hal yang kira-kira mereka perlukan, disesuaikan dengan kemampuan intelektual mereka. Pelajaran hs anak yang pendidikan formal terakhirnya adalah kelas 2 SMP tentu berbeda ya dengan anak yang pendidikan formal terakhirnya kelas 3 SD. Untuk anak yang sudah berusia 14+ biasanya, pelajarannya sudah cenderung ke arah apa yang diminatinya. Lihat nilai-nilai di raportnya, pelajaran apa yang nilainya paling tinggi? Lalu, tanya pula dia, pelajaran apa yang paling dia suka. Nah, orang tua bisa merancang materi belajar berdasarkan dua hal ini. Kalau dia suka matematika dan menggambar, misalnya, coba kenalkan dia dengan koding dan web programming. Dia bisa mendesain website dengan cantik nantinya, kalau sudah pandai. Atau, kalau dia lebih suka menggambar dan pelajaran seni lainnya, coba masukkan dia ke les menggambar, dan les komputer, khusus program pengolahan gambar. Dia bisa jadi ilustrator atau animator nantinya.

Menyelenggarakan homeschooling itu sebenarnya tidak terlalu sulit, yang sulit itu memulainya. Pada awalnya, memang ini semua terasa berat karena orang tua harus bergerak keluar dari zona nyamannya. Tapi, mirip dengan pesawat udara yang untuk naik perlu upaya besar untuk mendorong pesawat hingga mencapai titik stabil, nah, homeschooling juga begitu. Setelah beberapa waktu, keluarga akan mencapai sebuah kestabilan, dan semuanya bisa dikerjakan secara autopilot. Saya sendiri sekarang sudah nggak seriweuh dulu menyelenggarakan hs anak-anak. Ayesha yang sudah umur 12 tahun sudah tahu apa minatnya, dan bagaimana cara mendalaminya. Alifa yang berumur 8 tahun sekarang hampir mencapai kestabilan tersebut (dalam pengertian, dia sudah bisa belajar sendiri). Mahreen (5 th) yang masih butuh saya, namun, dalam banyak hal, dia belajar sendiri. Pekerjaannya sepanjang hari adalah membuat segala macam benda kreasi dari bahan-bahan yang saya sediakan. Barang-barang yang dia buat juga makin lama makin rumit dan mekanik, mengisyaratkan adanya pencapaian-pencapaian baru setiap hari.

Terakhir saya mau bilang: hal pertama yang harus Anda miliki sebelum mulai hs adalah, YAKIN dan PERCAYA pada diri sendiri. DI luar sana, banyak orang-orang yang tamat SMA atau yang sarjana tapi nggak suka baca dan nggak mau meningkatkan kapasitas dirinya, nggak merasa berat jadi guru. Lah, Anda yang mengenyam pendidikan tinggi, suka baca dan belajar kok ya ragu mendidik anak sendiri :D. Jadi, yakinlah. Keyakinan itu modal awal yang sangat berharga

 

Share Button

2 Replies to “Q & A: Bagaimana Memulai Homeschooling”

Leave a Reply

Your email address will not be published.