Apa yang Saya Temukan Ketika Berkelana ke Pikiran Para Filsuf Pendidikan

Semenjak mendidik anak-anak sendiri di rumah, saya memaksa diri untuk berkelana ke belantara dunia epistemologi (atawa teori ilmu) pendidikan. Saya berusaha menemukan apa sesungguhnya makna mendidik itu, apa sesungguhnya yang kita cari di dalamnya, bagaimana kita bisa menyebut sebuah model pengajaran betul-betul sebagai sebuah model pendidikan yang benar? Apa ukurannya? Apa batas-batasnya? Saya berkelana ke dalam pikiran-pikiran para filsuf pendidikan masa lalu dan masa kini, ke pikiran filsuf non muslim sampai muslim, merayap ke tumpukan epistemologi pendidikan Islam yang dirumuskan ulama masa lalu dan kontemporer. Cukup banyak yang saya dapat, namun, dibanding samudera ilmu pendidikan yang begitu luas, apa yang saya ketahui ibarat butiran debu. Meski begitu, saya memberanikan diri untuk menulis intisari pengetahuan yang hanya sebutir debu itu di sini. Semoga ini ada manfaatnya. Jika ada kesalahan dalam tulisan saya, maka itu semata karena keterbatasan kemampuan saya memahami pikiran orang-orang besar itu.

**

Epistemologi, sederhananya adalah teori ilmu. Sekarang ini makin banyak keluarga muslim yang ingin memberikan pendidikan Islam secara integral kepada anak-anaknya. Ini adalah semangat pengasuhan yang sangat positif. Namun, sebelum sampai pada tataran praktis, tentu kita harus tahu dulu hal-hal berikut: apa itu pendidikan Islam? Seperti apa pendidikan Islam itu? Apa format dan metodologinya? Apa yang menjadi standar sebuah model pendidikan disebut sebagai pendidikan Islam?  Dst.

Ada satu pengajaran dari Ali bin Abi Thalib yang sangat penting mengenai ilmu.
Menurutnya, ilmu itu dibagi ke dalam dua kategori, pertama ilmu potensial, kedua ilmu perolehan. Ilmu potensial adalah ilmu yang sudah menyatu dalam diri setiap manusia. Ilmu ini berupa kemampuan bernalar dan berpikir kreatif. Ilmu perolehan adalah ilmu yang didapat di bangku-bangku sekolah. Sederhananya begini. Ilmu perolehan itu adalah hapalan, sementara ilmu potensial itu kemampuan bernalar. Banyak orang yang bagus kemampuan hapalannya tapi mandeg kemampuan bernalarnya. Kenapa? Karena pendidikan dan pola asuh yang ia terima tidak membantunya mengembangkan daya nalar ini.

Tujuan belajar, merujuk ke Alquran, adalah mampu berpikir. Tampak dari qs Az Zumar: 17-18: “… Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang memiliki akal.” Dan tujuan akhir dari berpikir adalah beramal.

Jadi prosesnya begini: belajar —>mampu berpikir/bernalar —> mengamalkan. Sistem pendidikan yang hanya membuat orang sebagai perekam informasi saja, akan menghasilkan orang-orang seperti yang disabdakan Rasulullah:

“Cukuplah bagi seseorang dikatakan bodoh jika dia menceritakan seluruh yang didengarnya.” 

Hadis Rasul ini mengindikasikan, bahwa ‘si bodoh’ ini adalah orang yang cuma mampu merekam tapi tak mampu memilih dan memilah informasi mana yang benar dan yang tidak. Kenapa? Karena kemampuan berpikir kritisnya tidak ada, sehingga akal yang seharusnya berguna sebagai penyaring, tidak bekerja.

Cara kerja otak itu sesungguhnya sama seperti cara kerja lambung. Rasulullah berpesan, isilah lambung itu dengan: 1/3 makanan, 1/3 air dan 1/3 udara. Kenapa demikian? Sebab, jika lambung terisi penuh, akan menghambat kerjanya untuk mengolah makanan, sehingga sari-sari makanan tidak terserap maksimal ke dalam tubuh. Nah, otak begitu juga. Jika anak diasup materi terlalu banyak, kemampuannya untuk menyerap nutrisi ilmu itu jadi berkurang. Dengan begitu, Dari sekian waktu belajar, pemberian materi jangan memakan durasi yang terlalu panjang, selebihnya adalah waktu yang harus diberikan kepada anak untuk mengolah materi itu menjadi sesuatu. Durasi yang ia gunakan untuk mengolah materi inilah kesempatannya mengembangkan kemampuan bernalar. AlGhazali mengatakan, biarkan anak beraktivitas hingga berkeringat, sesungguhnya keringatnya itulah yang akan menumbuhkan kecerdasannya. Sesungguhnya, dari pesan AlGhazali ini, ada lautan makna, materi dan metode belajar yang tak kering bila digali. Bila kita ambil poinnya saja, maka maksudnya adalah, biarkan anak bergerak dan beraktivitas sebanyak-banyaknya, karena dengan banyak beraktivitas itulah ia menjadi kreatif, solutif dan mengembangkan nalarnya. Dengan begitu, jika kita bicara metode, maka metode duduk sepanjang hari menerima materi, bukanlah metode belajar yang cocok untuk anak-anak.

Ada banyak orang yang menuntut ilmu dalam waktu lama. Anak-anak Indonesia sendiri umumnya harus menghabiskan 12 tahun waktunya untuk mempelajari pengetahuan dasar (SD-SMP-SMA), dan bila kuliah, ia harus menambah waktu belajarnya antara 3,5-5 tahun lagi. Dan bila dia melanjutkan kuliah sampai S3, maka masa pendidikan yang ia lalui bisa lebih panjang. Jika model pendidkan yang ia terima hanya sebatas perekaman, maka dia hanya menjadi seorang penghapal. Jika ia menjadi guru suatu saat nanti, kemungkinan besar ia akan mengajar siswanya pun dengan metode yang sama, yaitu perekaman (hapalan). Karena itu, tidak mengherankan, bila kemudian ada orang-orang yang sudah berpendidikan tinggi, bahkan udah kelas master dan doktor, masih suka menyebar berita-berita hoax. Kenapa? Karena kemampuan nalarnya menyaring informasi tidak maksimal, oleh sebab pendidikan yang ia tempuh selama ini tidak mendukung hal itu.

Dengan demikian, penting sekali bagi kita saat ini, baik orang tua maupun guru, untuk mengembalikan fungsi belajar itu ke fitrahnya, yaitu, mendidik anak manusia untuk bisa berpikir, bernalar, mengembangkan analisis. Hanya dengan itulah, kita bisa memunculkan anak-anak yang kritis dan kreatif.

Demikian. Salam

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.