Belajar Jadi Ibu (2)

Saat pertama jadi ibu, saya baru tahu secara kongkret hal ini: BAYI ADALAH MAKHLUK YANG BELUM BISA DIATUR. Mana bisa kan bilang ke si bayi: “Hei, Baby, kalau mau pipis langsung ke kamar mandi ya”, atau “Baby, karena hari sudah malam, kamu harus tidur. Mata mommy udah berat nih. Bangunnya besok ajah, pas azan Subuh ya.” Nah, karena bayi nggak bisa diatur, maka satu-satunya jalan untuk mengurangi stress jadi ibu baru adalah: mengatur pikiran sendiri. Begitu.

Nah, coba bayangin ini ya: sebelum punya bayi, perempuan bisa:

  1. Jalan-jalan kemana aja sesukanya
  2. Kalau pengen leyeh-leyeh di siang hari, ayo aja
  3. Mau ngapa-ngapain terserah keinginan hati aja.
  4. Mau mandi bisa lamaaa, ya luluran, ya pake minyak zaitu, ya keramas, ya creambath dan sebagainya

Setelah punya bayi:

  1. Nggak bisa jalan-jalan sesukanya karena anak ntar ditinggalin ama siapa? Trus kalo lapar gimana?
  2. Pas pengen leyeh-leyeh bayi jejeritan pengen disayang
  3. Baru aja mau masuk kamar mandi, si bayi langsung jerit-jerit kaget karena motor yang lewat knalpotnya kenceng banget
  4. Baru aja selesai mandi, wangi-wangi, trus bayi jerit-jerit karena BAB

Gitu deh.

Kalau Anda punya pengalaman menggendong bayi dari Isya sampai jelang azan Subuh nggak pake berhenti, maka selamat, kita senasib. Tuh anak tauuuu aja kalau mau diletakin di kasur. DIkirain udah tidur gitu ya, taunya pas mau ditarok jerit-jerit lagi. Hwadoooh. Pengen nangis bombay tapi gimanaaaa gitu ya, malulah sama cicak yang berdecak ck ck ck …. maka, untuk menjaga kesehatan mental, sayapun mengubah sudut pandang.

Okeh, gueh gak bisa ngatur si baby, tapi gueh bisa ngatur pikiran sendiri.

Gimana cara ngatur pikiran? yaitu dengan menyadari bahwa bayi adalah bagian diri saya. Ketika ia menangis, itu artinya dia butuh saya untuk menenangkan dirinya. Untuk meyakinkan dirinya, bahwa dunia ini masih tempat yang nyaman untuk dia huni. Perlahan, perasaan galau karena perubahan hidup yang drastis setelah kehadiran baby perlahan memudar.

Memang, untuk bisa mengatur pikiran ini perlu latihan, dan itu nggak mudah. Saya sempat beberapa kali keok juga. Tapi alhamdulillah, lama-lama saya jadi lebih rileks. Prinsip saya sebagai ibu satu aja:  i’m not perfect, i just try my best to be a mother. Itu aja. Saya nggak berusaha untuk menjadi ibu ideal versi A, B, C, D dan lainnya, karena itu kan cuma ideal versi orang lain saja yang hidupnya tidak sama dengan hidup saya.

Beberapa ibu sepantaran saya (dan yang usianya di bawah saya) yang saya kenal, kadang setiap bulan itu ngeluh aja. Ya capeklah, jenuhlah, stress-lah menghadapi rutinitas, pekerjaan yang nggak beres-beres, anak-anak yang ribut, dan lainnya. Mereka punya harapan-harapan yang tak bisa dicapai dan tak mungkin dicapai, seperti, ingin lari dari kehidupan mereka sekarang menuju kehidupan baru dimana mereka bisa bebas dari kewajiban yang tak putus-putus. Mereka tahu itu tidak mungkin, namun mereka tetap memelihara keinginan itu, sehingga yang muncul adalah perasaan tertekan. Saya tuh kadang kalau ketemu mereka gimanaaaa gitu ya. Bawaan mereka gelaaaap melulu. Menurut saya, satu-satunya jalan untuk bebas dari tekanan seperti ini adalah dengan ikhlas menjalaninya. Toh pernikahan adalah hidup yang dulu dipilih kan? Tanda kedewasaan adalah kesediaan untuk teguh berkomitmen, demikian kata Karlina Supelli, filsuf Indonesia itu dalam pidato kebudayaannya beberapa tahun lalu. Jika rutinitas sangat berat untuk dijalani, ya jangan terlalu rigid menjalaninya. Fleksibel saja. Awalilah hari dengan mengerjakan rutinitas yang paling penting dahulu, misalnya menyediakan makanan buat sarapan. Lain-lainnya itu bisa dikerjakan nanti setelah perut semua anggota keluarga terisi.

Dulu sekali, saya memang mudah jengkel kalau ada yang berantakan di rumah, sekarang sih, yaaa … terserah lu dah, Anak-anak, yang penting aman. Mau nyoret dinding kek, nyoret lantai kek, bahkan nyoret wajah sendiri kek, gak apa-apa. Capek gitu kalau hidup itu mesti presisi di segala bidang. Justru kemudian saya menemukan, bahwa kesempurnaan hidup itu datang dari kesiapan kita menerima ketidaksempurnaan itu. Kebahagiaan ada pada penerimaan.

Menjadi ibu itu memang tidak mudah, tapi, bila dijalani dengan rileks, ia akanmenjadi sebuah dunia yang menyenangkan.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.