Q & A: Anak Saya Masih Prasekolah, Apa yang Harus Saya Ajarkan?

Sebenarnya homeschooling bisa dimulai sejak umur berapa? Apa yang mula-mula harus diajarkan? Dua pertanyaan ini paling sering muncul di aneka forum homeschooling. Sebenarnya, anak bisa diajar sejak umur berapa aja. Sejak baru lahir pun bisa. Yang perlu diperhatikan adalah metode dan materinya. Pastikan semuanya disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak. Berikut beberapa hal yang bisa diajarkan pada anak prasekolah sesuai pengalaman saya. Keluarga lain mungkin punya pengalaman sendiri yang berbeda. Semakin banyak kita mengetahui pengalaman setiap keluarga homeschooling, akan semakin kaya referensi kita.

  1. Pelajaran yang dimaksud di sini adalah yang berkaitan dengan pengembangan fungsi otak. Nah, pelajaran pertama yang saya beri ke anak-anak adalah pelajaran berbahasa, sebab, bahasa adalah pengantar ilmu pengetahuan. Belajar apapun, nyaris membutuhkan bahasa, bahkan untuk memahami kitab suci pun, kita memerlukan kemampuan berbahasa yang baik. Orang tua bisa mengajarkan bahasa ke bayi dengan membacakan buku cerita setiap malam. Buku untuk bayi biasanya berupa board book, sekarang relatif mudah ditemukan ya, bahkan orang tua pun bisa membuatnya sendiri kalau sulit menemukannya, atau kalau harganya dirasa terlalu mahal. Saya dulu agak kesulitan mendapatkan buku seperti ini. Biasanya, kalau ada book fair, buku-buku kayak gini baru bisa didapatkan. Dulu saya juga nggak kenal belanja online. Jadi, saat putri pertama saya lahir tahun 2006, saya cuma bacain majalah-majalah saya aja, di antaranya Majalah Ayah Bunda. Saya tampilkan lembaran yang ada gambar-gambar besarnya. Saya tunjukkan padanya lembaran-lembarannya ke anak saya yang waktu itu masih belum bisa tengkurap. Saya cuma bacain gambar. Misalanya, ‘lihat nih, ibu ini pakai baju warna merah’.

Saat anak sudah bisa duduk di pangkuan saya (sekira usia empat bulan), dia udah bisa buka-buka lembaran majalah itu sendiri dan sangat tertarik dengannya. Tapi, memang, buat dikasi ke bayi, nggak mungkin. Soale lembarannya mudah sobek kalau digigit anak. Dulu saya pernah nemu label harga dalam pupnya (hweleh). Nggak tahu tuh berapa kali Ayesha nelan kertas. Yah, dulu belum kepikiran sih bikin board book sendiri.

O, ya, bagi yang mau bikin board book buat bayinya, bisa lihat caranya di sini yaaa.  Supaya lebih aman, board booknya saya lapisi ama selotip besar. Gambar-gambarnya bisa diunduh di situs saya ini, atau cari sendiri di majalah bekas. Tergantung kreativitas para mommies aja.

2. Saya mulai mengajarkan konsep-konsep matematika kepada anak dengan cara mengenalkan mereka pada warna dan ukuran. Jadi, setiap ketemu benda, saya akan kasi tahu, apa warna benda itu, lalu mengajaknya membandingkan ukuran benda itu dengan benda lain. Misal kayak gini, “Eh ini ada bola, warnanya merah. Bentuknya bulat. Coba dipegang.” Trus saya kasi tau juga posisi benda itu, apakah di dalam, di luar, di atas, di bawah, dst. Kemudian saya ajar juga dia cara mengelompokkan sesuatu, kadang berdasar ukuran, kadang berdasar bentuk, warna, dll. Ini adalah konsep-konsep logika matematis.

3. Setelah dia bisa duduk dengan baik, saya mulai ajak dia menggambar. Saya ngasi spidol atau krayon yang aman buat anak. Dia berkegiatan di bawah pengawasan saya, karena kan takut juga kalau dia ngunyah-ngunyah krayonnya. Ini adalah latihan awal belajar menulis

4. Untuk melatih motorik halusnya, dia main boneka, bola, lego besar-besar, kotak, benda aneka tekstur, dll. Untuk melatih motorik kasarnya, ya saya biarin aja dia merangkak, jalan, dll. Saya cuma ngawasin. Saya nggak pernah beli kereta bundar beroda yang acap dibeli orang tua buat anaknya itu. Apa sih namanya ya … saya lupa. Biasanya, kalau duduk di situ anak bakal nyeret-nyeret keretanya. Saya nggak pake itu karena menghambat anak saya buat merangkak. Merangkak itu sebenarnya kegiatan yang diciptakan Allah untuk anak manusia, sebagai pelajaran awal mengkoordinasikan mata dan tangan. Anak yang melalui fase merangkak yang panjang, cenderung akan lebih mudah belajar membaca, karena matanya sudah terlatih berkoordinasi dengan gerak tangan (anak kan belajar membaca mula-mula pake jari ya, baru kalau udah lancar membaca, tinggal gerak-gerakin mata doang). Rata-rata teman saya yang anaknya telat bisa baca, mengakui kalau fase merangkak anaknya pendek sekali. Penelitian tentang pentingnya fase merangkak ini untuk kemampuan membaca anak pernah saya baca bertahun lalu. Saya lupa bukunya dipinjam ama siapa.

5. Setelah dia berusia tiga tahunan, baru ajak bikin craft. Mulanya dengan mengajari dia melipat kertas. Ajari dia bikin origami kapal, pesawat, hewan, dll. Setelah dia terbiasa dengan itu, baru ajak dia menempel. Mulanya nempel stiker aja. Kan ada ya stiker timbul yang mudah dilepas sama anak itu. Nah, kasi dia itu. Lalu, kalau udah terbiasa, ajak dia nempel. Mommie yang gunting, dia yang nge-lem ke kertas. Trus, ajak dia menggunting dengan gunting plastik buat balita. Saya punya satu set gunting kayak gini. Guntingnya dari plastik, tumpul dan aman buat anak, tapi, bisa digunakan untuk menggunting kertas.

6. Setelah dia berusia di atas empat tahun, baru dia belajar sesuatu yang bertema. Nah, saya suka bikin buku sama Mahreen (5 th). Saya ajak dia mikir isi buku itu, lalu baru kami sama-sama nyari bahannya. Ini salah satu cara melatih anak berpikir sejak dini.

Nah begitu pengalaman saya. 😀

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.