Belajar Jadi Ibu : Kisah Baju Turunan

suatu kali saya ketemu seorang anak cewek yang entah kenapa nggak percaya diri. Kata ibunya, karena tuh anak memakai baju warisan kakaknya. Halah? Saya nyaris melotot saking kagetnya. Masa pakai baju turunan jadi nggak percaya diri? Saya gak tahu dimana hubungannya. Anak itu cantik dan pintar. Badannya tinggi besar. Kalau dilihat dari sisi fisik, sebenarnya dia gak punya alasan untuk tidak percaya diri.

Lalu apa kaitan sikapnya itu dengan baju turunan? Oh, ternyata ini.

Orang tuanya, ketika memberikan baju kakaknya untuk dia, berkata (kira-kira begini), “Maaf ya, Nak, ibu nggak bisa beliin baju baru. Pakai baju kakak aja ya, Nak. Aduuh, gimana ya. Nggak apa-apa ya. Kasihan kamu.”

Hwedeh. Saya yang mendengarnya jadi garuk-garuk kepala. Ya pantas aja anaknya jadi ngerasa gitu. Sebagai anak kedua, dia jadi merasa nggak bisa mendapatkan yang terbaru, sebab, semua yang ia miliki cuma lungsuran. Ternyata, soal bahasa-berbahasa ini penting untuk mengasah percaya diri anak.

Saya sendiri punya tiga anak yang semua perempuan. Itu artinya, anak kedua dan ketiga sama-sama mendapatkan baju lungsuran kakaknya. Saya kalau mau ngelungsurin baju ke mereka, bilangnya kayak gini:

“Coba kamu pakai baju kakak ini. Muat nggak? Waah, muaat. Hebaaaat. Anak ibu ternyata udah tambah tinggi, buktinya udah bisa pakai baju kakak yang bagus-bagus ini. Coba kita ukur dulu tingginya.”

Nah, karena saya ngomongnya kayak gini, mereka semua jadi hepi kalau nerima lungsuran baju, sebab, itu tanda mereka udah besar. Pas mereka pakai baju lungsuran, mereka jadi pede. Ekspresi mereka kayak gini, ‘gue udah besar. Liat nih. Baju kakak udah muat ama gue.’

Jadi, jangan anggap sepele soal bahasa ini. Kalau mau menyampaikan sesuatu ke anak, pilih-pilihlah kata yang mau dipakai. Jangan sampai, justru gara-gara kita, anak jadi nggak pede dengan dirinya.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.