Untuk Apa PR Buat Anak SD?

Seorang teman saya mengeluh, “May, anak gw baru kelas 2 SD tapi tiap hari bawa PR dan dia mesti ngerjainnya tiap malam. Kasian, May. Mana PRnya banyak-banyak lagi. Tiap mata pelajaran ada PRnya.”

Sebenarnya, sebagian sekolah sekarang sudah meminimalisir PR untuk anak SD, sebagian lagi justru meniadakannya. Di luar dua sekolah ini, masih ada sekolah yang sukaaa sekali memberikan PR untuk siswa kecilnya. Apa gunanya? Supaya mereka paham pelajaran yang diberikan, begitu selalu alasan yang saya dengar. Pertanyaan saya: seberapa perlu cara ini?

Menurut pengalaman saya mengajar, sebenarnya hal paling penting yang perlu ditanamkan ke anak sekolah dasar itu adalah kecintaan terhadap dunia belajar, bukan menyuruh mereka menyelesaikan soal-soal. Setidaknya, sampai usia (minimal) 10 tahun, satu-satunya hal yang perlu ditanamkan ke anak adalah, bagaimana caranya supaya mereka bisa menjadi seorang pembaca yang baik, sebab, kemampuan memahami bacaan ini memiliki pengaruh besar terhadap prestasi akademik mereka saat SMP dan SMA. Logikanya sederhana saja, jika mereka tidak suka membaca, tidak punya keterampilan memahami bacaan dengan baik, bagaimana caranya mereka bisa mengerti pelajaran-pelajara tingkat lanjut? Tentu, sebelum membangun rumah, yang kita perkuat pondasinya dulu. Dengan begitu, tidak perlu tergesa memberikan banyak pelajaran ke anak, karena toh, jika mereka sudah cinta belajar, mereka akan bisa memahami banyak hal nanti di usia SMP.

Kalau begitu, materi apa yang sebaiknya dikerjakan anak di rumah? Satu saja: membaca. Pada usia-usia awal belajar, guru harus memotivasi siswa untuk suka membaca, dengan terus menerus mendorongnya membaca sesuatu di rumah, dengan tujuan diceritakan esok hari di sekolah. Ini adalah cara yang saya pakai di kelas-kelas saya. Saya sendiri biasanya membawa setumpuk buku ke kelas, dan meminta mereka memilih satu buku untuk dibaca di rumah. Dengan membuat mereka banyak membaca, seorang guru sesungguhnya membantu mengisi kepala anak-anak dengan kosa kata, wawasan dan imajinasi, hal yang dibutuhkan anak saat mereka harus mempelajari materi lanjutan di SMP-SMA. Jadi, menurut saya, untuk anak SD, terutama yang kelas rendah (1,2,3), PR satu-satunya yang harus mereka kerjakan adalah membaca buku. Udah. Itu aja. Singkirkan dulu keinginan memberikan PR soal-soal IPA atau matematika. Biarkan mereka mengerjakannya di sekolah saja.

Harris Cooper, seorang profesor psikologi di Duke University, pernah melakukan penelitian pada tahun 2006, yang hasilnya adalah, anak yang cocok diberikan PR itu hanyalah untuk anak yang berada di 7th grade, atau anak yang sudah berusia 12 tahun ke atas kalau di Indonesia (Kelas 7 SMP). Untuk anak yang sudah besar ini, ada korelasi positif antara pencapaian akademik yang baik dengan PR (dengan catatan, PRnya tidak terlalu banyak). Sementara untuk anak yang berusia di bawahnya (usia SD), korelasi positifnya justru tidak terlihat. Artinya, udah capek-capek ngasi anak SD PR, eh, ternyata nggak banyak membantu untuk mem-boost kemampuan akademiknya.

Usia SD sesungguhnya usia krusial untuk menanamkan beragam kemampuan dasar, karena itu, dalam homeschooling keluarga saya, saya lebih banyak menanamkan kecintaan terhadap buku, mengajarkan seni dalam berbagai variannya (musik, menggambar, dll), kreativitas, dll. Lain-lainnya bisa dipelajari nanti setelah mereka siap untuk itu.

Catatan: tulisan ini merupakan hasil pengalaman dan pengamatan saya pribadi terhada para siswa usia sekolah dasar, dan terhadap anak saya sendiri.

 

Share Button

2 Replies to “Untuk Apa PR Buat Anak SD?”

Leave a Reply

Your email address will not be published.