Maaf, Anak Anda Lamban

Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan menarik anak-anak saya dari les bahasa Inggrisnya. Sebabnya satu, guru Alifa mengatakan pada kami, kalau Alifa lamban dalam belajar, jadi, kami sebagai orang tua harus banyak mengajarinya di rumah.

Saya terus terang tidak suka pernyataan seperti ini karena hal-hal berikut:
1. Dalam kamus hidup saya, tidak ada kata lamban untuk anak-anak. Pernah dulu ada seorang siswa di kelas menulis kreatif saya, yang menurut ibunya, dibilang lamban oleh para guru di sekolah. Anak ini, sebutlah namanya si A, perlu waktu lamaaaaaa sekali untuk mulai menulis lambang, entah huruf atau angka. Di kelas saya, dia menghabiskan nyaris satu jam untuk berpikir sebelum mulai menulis kalimat pertamanya.

Saya pernah menemani anak ini sampai setengah jam, setelah kelas usai, hanya untuk membuat dia berhasil menulis dua kalimat. Tapi saya tidak mengecap dia sebagai lamban. Begini. Si A ini, saat itu umurnya baru delapan tahun. Nah, bagaimana mungkin, manusia yang pengalaman hidup dan belajarnya baru delapan tahun, bisa kita tuntut menguasai ini itu dalam waktu cepat? Jangan ukur mereka berdasarkan kemampuan teman-temannya, apalagi kemampuan kita. Coba bayangkan saja diri kita, manusia dewasa yang sudah kaya pengalaman hidup, berada di suatu daerah asing di Tibet sana, lalu dalam beberapa hari kita dipaksa untuk bisa memahami x, y dan z. Kira-kira, kita bisa tidak? Nah begitulah kira-kira analoginya ya.
Si A ini, bukan lamban, dia hanya anak yang punya banyak gagasan di kepalanya, dan mudah terdistraksi dengan gagasan-gagasan itu, inilah yang membuat dia lama memutuskan mau mengambil gagasan yang mana. Dalam hal ini, tugas orang dewasa adalah membantu si A untuk fokus pada satu gagasan tertentu.

2. Bahasa Inggris bukanlah bahasa utama orang Indonesia. Bahasa utama sebagian anak Indonesia adalah bahasa daerah, sementara bahasa sekundernya adalah bahasa Indonesia. Bahasa Inggris? Nanti dulu. Di rumah saya, bahasa utama adalah bahasa Indonesia, karena memang, saya sendiri kalau di keluarga kerap berkomunikasi dengan saudara-saudara saya (dari pihak ibu) dengan bahasa melayu Indonesia (mayoritas keluarga lahir dan besar di Riau meski kami orang Minang tulen). Itu artinya, karena bahasa Inggris bukanlah bahasa utama, juga bukan bahasa sekunder, sekecil apapun kemampuan anak Indonesia menggunakan bahasa itu harus dihargai, karena ia sudah bersusah payah memahami sesuatu yang bukan bahasanya.

Kembali ke les anak-anak. Setelah melalui serangkaian tanya jawab dengan anak-anak, termasuk bertanya soal semangat yang mereka rasakan saat belajar di situ, akhirnya saya memutuskan mengajari sendiri anak-anak saya. Saya memahami perasaan Alifa. Bagaimana mungkin seorang anak akan riang belajar, jika dia dicap demikian? Saya tidak ingin nanti dia jadi tersugesti kalau dia memang pelajar bahasa asing yang lamban.

Jadi saya mulai mencari buku-buku cerita anak berbahasa Inggris level rendah yang diterbitkan Ladybird. Saya nyari yang seken aja di lapak online. Seperti halnya ngajari anak bahasa Indonesia tulis, saya tidak mulai ngajari dari grammar, tapi dari kosa kata dan cerita. Grammar itu gampang. Nanti kalau anak udah banyak baca buku, dengan sendirinya dia paham tata bahasa. Untuk Ayesha, saya membeli banyak novel anak-anak bahasa Inggris, juga majalah Donald Bebek kesukaannya, yang edisi Inggrisnya. Nggak cuma itu, anak-anak juga saya minta nonton video-video animasi berbahasa Inggris, tanpa teks. Prinsip pengajaran bahasa saya satu: bahasa itu harus digunakan. Percuma kalau teori aja. Saya nge-boost anak dengan semua materi ini selama sekitar tiga bulan terakhir. Semalam saya ngetes hasilnya.

Ini adalah salah satu buku Alifa yang saya bacakan setiap jelang tidur. Dia sudah selesai membaca semua buku cerita berbahasa Inggris yang saya belikan. Tadi malam saya minta dia menceritakan ulang satu buku, Town Mouse and Country Mouse, dalam bahasa Indonesia. Hasilnya? Dia bisa menceritakannya sampai ke detail percakapan si tikus. Hanya satu kata yang dia tidak tahu artinya: frightened (takut). Itu artinya, Alifa mengerti isi buku itu sebaik dia memahami buku yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Sooooo? Tidak ada anak yang lamban. Anak yang masih mentah manalah mungkin dipaksa bergegas. Kitalah, sebagai orang dewasa, yang harus banyak sabar, dan kreatif menemukan metode belajar yang cocok buat mereka. Jika orang dewasa menyerah mengajari, anak pun akan menyerah mempelajari.

O ya, ngomong-ngomong, si A yang saya ceritakan di atas, di akhir pelajaran dengan saya, berhasil membuat satu cerita pendek dan puisi yang kemudian dimuat di koran.
Masih mau menghakimi anak kita sebagai si lamban?

Share Button

11 Replies to “Maaf, Anak Anda Lamban”

  1. Anonymous

    Keputusan yang bijak Maya, aku pun lagi berperang dengan perasaanku memilih sekolah anakku.

  2. Desi Anwar

    Sejatinya, tidak ada yg paling memahami anak kecuali ibu kandungnya sendiri. Jika ibunya punya visi dalam mendidik anak, sebaiknya dididik sendiri anaknya. Jangan serahkan pada guru lain, apalagi pada pembantu.

  3. Dania

    “tugas orang dewasa adalah membantu si A untuk fokus pada satu gagasan tertentu.”

    Bagaimana cara membantu nya, mba? sepertinya putriku lagi mengalami hal ini..

    • admin

      pengalaman saya begini, Mbak:
      Khusus untuk pelajaran menulis kreatif, saya biasanya menunjukkan gambar-gambar pada dia. Saya minta dia memilih satu gambar, lalu saya ajak dia untuk fokus menceritakan isi gambar itu. Saya biasanya akan memberikan beberapa kalimat awal, dengan mengosongkan beberapa bagian penting.
      Misal: Ada seekor anak ayam bernama ________ pergi ke _____________. Dia berencana untuk ___________.
      Nah, biasanya setelah mengerjakan beberapa kalimat awal, anak akan perlahan fokus menyelesaikan tulisannya

Leave a Reply

Your email address will not be published.