Mengapa Anak Harus Banyak Membaca

Mengapa membaca itu penting? Begini, sebelum sampai ke pembahasan ini, saya mau cerita dulu.

Saya punya cita-cita begini: kalau suatu saat nanti Allah memberi rizki bagi saya untuk membuat sebuah rumah belajar (okeh, mari kita sebut ini sekolah), yang tidak elitis (bisa dijangkau semua kalangan), pertama-tama yang ingin saya bangun adalah perpustakaannya. Saya akan membuat sebuah perpustakaan yang nantinya akan menampung minimal 40 ribu judul buku, dengan total jumlah buku sekitar 120 ribu eksemplar. Perpustakaan itu akan nyaman, sejuk, dan punya ruang tempat murid-murid saya belajar dan berdiskusi. Setelah perpustakaan selesai, saya akan membangun laboratorium atawa tempat praktek. Setelah kedua hal ini beres, saya baru akan membangun kelas-kelas belajar. Kelas-kelas ini tidak mesti keren (dalam pengertian pakai AC, kursi dan meja mahal, infokus kelas terbaru, tab di setiap meja, dll), karena bahan belajar yang sebenarnya itu ada di pustaka dan laboratorium, bukan di kelas. Jika kita sepakat sekolah adalah tempat anak-anak menimba ilmu pengetahuan, maka semestinya, ilmu pengetahuan itu yang pertama-tama kita hadirkan dalam bentuk pustaka dan labor, lain-lainnya gampang. Anak toh bisa belajar di perpustakaan, labor atau lapangan. Bagi saya, terus-terang saja, kelas-kelas mewah dan mahal itu tidak penting, sebab, bukan itu substansi pendidikan.

Mengapa Buku Penting

Pertanyaan sederhana: mengapa buku? Mengapa anak harus suka membaca?

Sekarang saya akan menyodorkan satu data. Mari kita buat asumsi satu halaman buku itu berjumlah 150 kata (sebenarnya satu halaman buku bisa berjumlah antara 150-200 kata, tapi, kita ambil saja angka 150). Berapa kecepatan membaca rata-rata anak? Umumnya berkisar antara 200-250 kata permenit. Jika dia membaca satu halaman saja sehari (1 menit ), maka dalam setahun dia menghabiskan 356 menit waktu untuk membaca. Berapa jumlah kata yang masuk ke otaknya? 53.400 kata.

Bagaimana jika anak membaca lima menit (setara lima halaman buku) sehari? dalam setahun dia akan memasukkkan 267 ribu kata ke otaknya.

Sekarang bagaimana kalau dia membaca 20 menit sehari? Dalam setahun dia akan memasukkan 1.068. 000 kata ke otaknya.

Pertanyaan saya:

Mana yang lebih pintar:

  1. Anak yang hanya punya 53.400 kata di otaknya, atau
  2. Anak yang punya 267 ribu kata di otaknya, atau,
  3. Anak yang punya 1.068.000 kata di otaknya?

Peradaban Buku

Sediakanlah selalu buku untuk dibaca anak-anak di rumah

Semua peradaban maju di dunia adalah peradaban buku. Ziaduddin Sardar, sang pemikir itu mengatakan, ‘Islam civilization is a book civilization’.

Diawali Dinasti Umayyah, penerjemahan besar-besaran naskah-naskah para filsuf-ilmuwan Yunani seperti Aristoteles, Plato, Euclid, dan Archimedes, naskah-naskah astronomi India sepertiĀ Siddhanta, dan naskah-naskah pengetahuan lain dari Persia dan berbagai tempat diterjemahkan dalam skala massif. Kekhalifahan membentuk tim penerjemahan, dan memberi para penerjemah ini bayaran emas seberat buku yang diterjemahkan. Buku-buku ini kemudian disebarkan di berbagai perpustakaan, dibahas, dipelajari dan dikembangkan. Al Khawarizmi berhasil membuktikan teori bumi itu bulat dengan perhitungan matematika, Ibn Jahiz dan Ibn Miskawayh berhasil mengembangkan teori asal-usul spesies dari pemikiran Plato. Dari kaum Arab gurun yang nyaris dilupakan sejarah, orang-orang Arab Islam ini kemudian berhasil membangun peradaban yang membentang selama 800 tahun. Mereka menghasilkan para ilmuwan dan filosof yang kecemerlangannya tak berkurang hingga kini. Pemikiran-pemikiran mereka terus dipelajri dan mempengaruhi dunia. Dan itu semua terjadi berkat buku, spesifiknya: membaca.

Kegiatan membaca itu istimewa karena mampu mengaktifkan seluruh area otak, sesuatu yang sulit dilakukan kegiatan lain. Saat seorang anak membaca, wilayah abstrak otak, yang bertanggungjawab terhadap kemampuan matematis akan aktif. Semakin sering anak membaca, akan semakin aktif area ini. Coba sebut, siapa ahli matematika dunia yang tidak suka membaca? Semua pakar eksakta adalah para pembaca, sebab, kegiatan inilah yang mendorong percepatan kemampuan matematis mereka. Silakan tengok hasil Tes PISA anak-anak Indonesia. Nilai bahasa yang jeblok pasti diikuti nilai matematika yang jeblok. Kemampuan matematika yang saya maksud tidak terkait dengan hapalan ya (seperti hapalan perkalian atau penambahan), tapi lebih terkait pada kemampuan menemukan jalan untuk memecahkan suatu persoalan matematis.

Jadi, mengapa membaca? Mengapa perpustakaan?

Mengapa kita masih bertanya?

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.