Enam Peran Keluarga Untuk Membentuk Anak Berprestasi

Anak berprestasi baik adalah keinginan semua orang tua. Bagaimana cara menumbuhkan anak yang demikian? Sebelum kita sampai ke pembahasan ini, kita bahas dulu hal berikut.

Ada satu pertanyaan menarik dalam dunia pendidikan keluarga, What is the role of family? to form or to inform? (Apa peranan keluarga? untuk membentuk (anak) atau (sekadar) untuk memberitahu (anak)?). Ada jarak yang sangat besar antara form dan inform.  Form atau membentuk, merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), adalah membuat, menjadikan, mendirikan, menggalang, membimbing atau menyusun sesuatu. Biasanya kegiatan membentuk dilakukan terhadap barang-barang mentah. Misalnya, barang-barang serupa semen, pasir, batu dan besi, dibentuk menjadi sebuah rumah. Bahan terigu, telur, gula dan mentega, dijadikan kue. Dengan demikian kegiatan membentuk, senyatanya adalah sebuah aktivitas yang melibatkan seluruh daya kreatif untuk menjadikan sesuatu seperti yang diharapkan.

Sekarang kita masuk ke pengertian inform atau memberi tahu. Merujuk KBBI, kata ini berarti memberikan informasi. Jika A tidak mengetahui sesuatu, maka B bisa memberi tahu A supaya A menjadi tahu. Jadi, perbuatannya hanya sampai tataran informatif, tidak terlalu melibatkan banyak upaya kreatif. Dengan begitu, bila merujuk kedua definisi ini, peran keluarga sesungguhnya lebih dari sekadar memberi informasi semacam, “Anak-anak jangan buang sampah sembarangan”, tapi lebih ke membentuk perilaku, dengan cara menunjukkannya secara kongkret. Nah sekarang kita sampai ke bahasan bagaimana membuat anak berprestasi?

Bagaimana Membuat Anak Berprestasi?

Keluarga yang komunikatif adalah salah satu kunci membentuk anak berprestasi

Tahun-tahun pertama seorang anak adalah tahun-tahun krusial untuk membentuk prilaku dan kecerdasan seorang anak. Hal ini dikarenakan, pada masa inilah terjadi pertumbuhan sel syaraf dan pembangunan karakter yang sedemikian pesat. Setidaknya pada enam tahun pertama hidupnya, lingkungan sosial seorang anak masih seputar keluarganya. Ia akan tumbuh dan mempelajari dunia dengan cara meniru keluarganya. Ia akan menyerap perilaku dan tumbuh sesuai pola pengasuhan keluarganya, sampai nanti ia bisa berpikir sendiri dan memilih perilaku mana yang sesuai untuk dirinya, setelah besar. Dengan begitu, seorang anak bisa dikatakan cermin keluarganya. Bagaimana seorang anak berperilaku, menunjukkan bagaimana keluarganya dan bagaimana ia diasuh. Dengan begitu, penyelenggaraan pendidikan dalam keluarga lebih bersifat membentuk, ketimbang memberi tahu.

Setelah anak memasuki usia sekolah, keterlibatan keluarga harus makin intensif, mengingat sekarang anak sudah memasuki lingkungan baru. Sebagian orang tua mengurangi intensitas kebersamaannya dengan anak pada masa-masa ini, dengan alasan, anak sudah sekolah, sudah besar dan tidak perlu terlalu didampingi. Kenyataannya, justru hingga anak-anak mencapai usia remaja, peran orang tua tidak berkurang, yang membedakan hanya bentuk peran yang dilakukan. Ada artikel menarik tentang ini di laman sahabatkeluarga milik Kemdikbud yang berjudul Jadilah Orang Tua Sadar, Bukan Orang Tua Nyasar Atau Bayar di sini

Bagaimana keluarga melibatkan diri dalam pendidikan anak-anaknya, dan apa saja bentuknya? Berikut enam poin yang saya dapat berdasarkan riset yang dilakukan oleh Profesor Pendidikan dan Sosiologi, Joyce Epstein, dari John Hopkins University.

  1. Pengasuhan. Pola pengasuhan membentuk karakter anak. Anak yang dididik dalam suasana penuh kasih sayang, dukungan, kepercayaan dan respek, akan tumbuh menjadi anak yang memiliki nilai diri (self esteem) dan percaya diri (self confidence). Anak yang memiliki konsep diri yang baik, akan memiliki pandangan positif terhadap dirinya sendiri, dan ini akan berperan penting dalam kehidupan sosial dan akademiknya nanti di usia sekolah. Sebaliknya, anak yang hidup dalam tekanan, kurang dipercaya orang tua, tidak didengarkan pendapatnya dan selalu diremehkan, akan memiliki konsep diri negatif dan ini akan mengurangi kepiawaiannya dalam kehidupan bersosial dan akademik.
  2. Komunikasi. Komunikasi memainkan peran penting dalam menumbuhkan rasa saling mengerti antara orang tua dengan lingkungan pendidikan anak-anaknya. Poin kedua ini tepat dilakukan oleh keluarga yang anak-anaknya mulai memasuki jenjang pendidikan formal. Sekolah sesungguhnya adalah keluarga anak juga, tempat dia menghabiskan beberapa jam waktunya dalam sehari. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk mengenali para guru anak-anaknya, dan rutin berkomunikasi dengan mereka soal pendidikan anak-anak.
  3. Kerja-Kerja Kerelawanan. Orang tua sebaiknya melibatkan diri dalam berbagai kegiatan yang membutuhkan partisipasi aktif mereka dalam setiap kegiatan pendidikan anak di sekolahnya. Keterlibatan keluarga dalam kegiatan-kegiatan sekolah akan membantu memperkuat sekolah, dan pada akhirnya akan memunculkan lingkungan belajar yang positif.
  4. Mendampingi Anak Belajar di Rumah. Dengan mendampingi anak belajar, orang tua akan memahami kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak. Ini juga akan membuat mereka mengerti kecenderungan bakat dan minat anak-anaknya.
  5. Membuat Keputusan. Mengajari anak untuk belajar membuat keputusan sendiri adalah bentuk pendidikan yang sangat penting. Ini akan membuat mereka belajar memilih mana yang lebih baik untuk diri mereka, dan berkomitmen menjalankan keputusan tersebut. Di sisi lain, orang tua juga bisa berperan aktif di komite sekolah, dan membantu sekolah mengambil keputusan-keputusan terbaik untuk pendidikan anak-anak.
  6. Berkolaborasi Dengan Komunitas. Perlu orang sekampung untuk membesarkan seorang anak, demikian pepatah Indian. Dengan begitu, untuk memaksimalkan pendidikan anak, orang tua juga perlu membuat anak terlibat aktif dalam berbagai komunitas, dan mendukung sekolah untuk bekerja sama dengan berbagai lembaga. Ini akan membantu membuka wawasan anak, supaya mereka melihat banyaknya peluang yang menanti di depan mereka.

Pendidikan anak adalah sesuatu yang sangat krusial. Ia tidak seperti membangun rumah, yang bila terjadi kesalahan dalam pembangunannya, si empunya rumah masih bisa merenovasinya sesuai yang diinginkan. Jika terjadi pengabaian dalam diri anak selama masa pendidikannya, dan itu baru disadari orang tua setelah anak dewasa, akan sulit memperbaikinya kembali. Waktu tidak akan bisa diputar lagi ke belakang. Oleh karena itu, menaruh perhatian yang bersungguh-sungguh terhadap anak dan pendidikannya sejak dini, adalah sesuatu yang niscaya.

Pendidik Rita F. Pierson berkata: Setiap anak memerlukan seorang penyokong, orang dewasa yang selalu berjuang untuk mereka, yang memahami betapa pentingnya sebuah hubungan positif untuk memacu perkembangan intelektual mereka dan selalu yakin, bahwa anak-anak bisa mencapai apapun yang mereka mau, setinggi apapun itu.”

Sebuah dukungan, mungkin remeh terasa, tapi sesungguhnya itu tangga bagi anak untuk mencapai bintang cita-cita mereka. Membuat mereka tumbuh jadi anak berprestasi.

#sahabatkeluarga

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.