8 Hal yang Seharusnya Saya Tahu Sebelum Memulai Homeschooling

Pengetahuan datang melalui belajar dan pengalaman. Itulah yang saya rasakan setelah menekuni dunia homeschooling selama lima tahun ini (dan masih berlanjut). Setelah di awal dulu terseok-seok menyelenggarakan homeschooling, seiring waktu, apa-apa yang dulu terasa sebagai masalah sebesar gunung, sekarang tidak lagi. Masalah itu memang bukan untuk sekadar dipikir-pikirkan, tapi untuk dihadapi. Kalau mikir mulu tanpa aksi, ya kapan sampainya. Alhamdulillah, sekarang rasanya semua lebih mudah. Perlahan, semuanya mengarah pada tujuan besar yang dipancang di awal dulu. Perkembangan anak-anak juga seperti yang diharapkan, bahkan melebihi ekspektasi. Ya, alhamdulillah. Pokoknya, sebagai orang tua yang bisa kita lakukan cuma berusaha sebaik-baiknya, lalu setelah itu titipkan semua pada Allah. Percaya saja pada Ia, sebab Allah adalah sebaik-baik penerima titipan.

Nah setelah lima tahun jungkir balik menyelenggarakan homeschooling, inilah delapan hal yang saya temukan.

  1. Homeschooling bukanlah school at home. Sebagian orang tua yang memulai homeschooling memang masih belum bisa membebaskan diri dari school rules ini. Dulu, di awal-awal saya juga begitu, sampai akhirnya saya mikir begini: ini kan anak saya, apa dasarnya dia pada usia segini sudah harus bisa ini itu sesuai standar x, y, z? Standar tetap saja dibuat orang-orang. Mengapa saya tidak membuat standar dan sistem belajar keluarga saya sendiri? Nah, dari sana, mulailah saya menyusun standar belajar saya sendiri. Sistem belajar saya tidaklah seperti di sekolah, yang jelas jamnya dari pukul sekian sampai sekian. Disiplin dalam homeschooling terletak pada komitmen, bahasa lainnya menyelesaikan tanggung jawab. Patuh pada jadwal pun, tapi tak punya kemampuan mematuhi komitmen ya percuma saja. Jika seseorang sudah terlatih berkomitmen menyelesaikan sesuatu, dengan sendirinya, ia akan punya jadwal dan skala prioritas. Jadi ini poin pertama yang saya temukan: disiplin terletak pada komitmen.
  2. Belajar sambil bermain? Bermain sambil belajar? Bermain dan belajar sesungguhnya adalah sebuah kesatuan. Bermain adalah bagian dari belajar, begitu juga halnya dengan belajar, merupakan bagian dari bermain. Apa yang dimaksud dengan belajar-bermain adalah, dalam belajar anak-anak mengeksplorasi sesuatu dan menemukan. Dengan cara ini, rasa penasaran anak-anak akan terus terpelihara. Jika mereka menemukan kejutan-kejutan dalam belajar, mereka akan selalu menanti-nantikan saat-saat belajar. Dengan begitu, belajar akan menjadi candu. Apapun yang mereka lihat akan menjadi bahan perenungan, akan jadi bahan pelajaran. Inilah poin kedua yang saya temukan: bermain-belajar itu satu paket. Bahasa antah berantahnya: package of curiosity, alias paket keingintahuan. Dalam paket ini harus ada imajinasi, petualangan, penemuan. Belajar tanpa tiga hal itu bukan belajar namanya.
  3. Membaca adalah koentji. Yezzz, itu sebabnya kenapa di tengah masyarakat Arab yang mayoritasnya buta huruf, Alquran turun dengan perintah pertama: iqra!Iqra adalah kunci ilmu pengetahuan. Buku adalah jantungnya peradaban. Mengajar tanpa menyediakan perpustakaan sama aja dengan bohong. Bacakan buku sejak anak-anak masih kecil sekali. Saya punya program membacakan 1000 buku untuk anak saya sebelum mereka berusia lima tahun, dan ini sukses untuk ketiga anak saya. Membaca adalah satu-satunya aktivitas yang membuka seluruh potensi otak. Bahkan, untuk belajar matematika pun, seorang anak perlu banyak membaca buku, sebab, area abstrak otak yang dibutuhkan untuk mempelajari matematika, baru bisa diaktifkan oleh kegiatan membaca. Jadi, inilah poin ketiga: membaca adalah koetnji! Jika anak sudah jadi kutu buku, maka bisa dibilang 50% beban mengajar selesai, 50% lagi ditentukan oleh pengasuhan dan pengalaman.
  4. Kemandirian itu penting. Yezz, inilah poin keempat. Homeschooling bukan semata belajar akademik, atau mengembangkan kemampuan kognitif. homeschooling lebih luas dari itu. Ajar anak mandiri sejak kecil. Masih ingat dulu waktu SD ada pelajaran PKK? Ya, pelajaran ini sesungguhnya pelajaran kemandirian atawa kemampuan mengurus diri sendiri. Nah, beri anak tanggung jawab mengurus rumah. Mulai dari membersihkan tempat tidur mereka, melipat baju mereka sendiri sampai menyiapkan makanan. Di rumah saya membagi tugas membuat makanan pada anak-anak saya. Nah, Ayesha sekarang sudah bisa membuat banyak jenis makanan. Resep terbaru yang ia kuasai adalah soto betawi yang menurut anak saya paling kecil, rasanya jauh lebih enak dari soto bikinan saya (-_-). Tak peduli anak anda lelaki atau perempuan, melatih kemandirian ini penting. Bagian dari latihan bertahan hidup nanti setelah dewasa.
  5. Anda terkesan dengan homeschooling keluarga-keluarga lain? Boleh, tapi jangan jadikan itu standar anda. Inilah poin kelima. Saya sering terkesan dengan aneka foto-foto homeschooling berbagai keluarga di internet, mulai dari ruang belajar yang masyaallah keren abis, pajangan buku-buku yang bikin ngiri (sekaligus mahal bukan kepalang), sampai keberhasilan-keberhasilan anak mereka yang pada usia segini dan segitu udah bisa ini itu. Lah saya? Saya singkirkan semua gambaran keluarga-kelurga hs itu di kepala. Kenapa? Karena di balik foto yang indah-indah, bisa jadi ada jutaan rengekan, tantrum, capek, dan mungkin kemarahan. who knows? i don’t want to know. Jadi, saya memilih peduli pada keluarga saya sendiri dan standar belajar yang saya susun sendiri. Selama saya on the right track maka semuanya baik-baik saja. Inilah poin kelima: buatlah standar anda sendiri. Jangan jadikan anda ataupun keluarga anda duplikat keluarga homeschooling lain, karena anda boleh jadi tidak akan pernah tahu ada apa di balik semua foto-foto yang indah itu.
  6. Percayai anak, serahkan pada Allah sepenuhnya. Nah, ini adalah poin yang saya dapat berdasarkan pengalaman saya baru-baru ini. Beberapa waktu lalu saya harus keluar kota dari pagi sekali. Saat saya berangkat, suami saya yang masih ada di luar kota, menurut infonya, sedang dalam perjalanan menuju Padang. Menurut hitungan saya, paling dalam satu atau dua jam ke depan ia akan sampai. Kenyataannya, ada banyak urusan yang harus ia selesaikan, yang membuat ia baru berangkat sekitar pukul dua siang. Saat itu, saya stres bukan main mikiran tiga anak yang jaraknya berpuluh kilometer dari saya. Sepanjang waktu saya mikir gimana makan mereka, gimana ininya, itunya, dan lainnya, hingga saya nggak bisa konsentrasi berkegiatan. Kenyataannya, ketika suami saya sampai di rumah lewat magrib, dia melaporkan seperti ini: anak-anak happy-happy aja. Mereka sudah masak, makannya nasi dan ikan bakar. Mereka makannya banyak. Udah salat berjamaah (kakak yang jadi imam), udah ngaji, dan sudah melukis pemandangan. Masyaallah, saya mendengarnya serasa ingin nangis. Jadi, begitulah ya, kalau kita percaya dan titipkan anak sepenuhnya pada Allah, insyaallah semua akan baik-baik saja. Allah adalah sebaik-baik penerima titipan.

7. You just a mum not a super mom! Jangan pernah menjadi supermom atau superdad. Jadilah seorang ibu dan ayah saja. Ibu yang mencintai, ayah yang menyayangi. Tekanan menjadi supermom yang bisa menyelesaikan segala sesuatu hanya akan membuat stress. Oh, anak-anak tidak peduli apakah anda superparents atau tidak, mereka hanya peduli satu hal: anda menerima dan menyayangi mereka atau tidak. Itu saja. Ibu dan ayah saya bukanlah supermom dan superdad, tapi mereka adalah orang-orang paling terdepan dalam mencintai dan melindungi saya, dan sebagai seorang anak, itu saja yang saya butuhkan. Cinta, penerimaan, dukungan. Menyelenggarakan hs bagi anak tidak berarti anda sebagai orang tua harus sempurna. Harus jadi the best techer, atau best-best apalah itu seperti yang sering dibagi-bagi orang di media sosial. Menyelenggarakan hs berarti mendukung anak sepenuhnya. Anda juga harus ingat, anak adalah manusia yang tengah berproses. Mereka juga mampu mendidik dirinya sendiri. Lebih dari itu, mereka juga ada dalam genggaman Tuhannya, dan dengan begitu, Tuhan pun akan mendidiknya. Jadi, jangan menekan diri sendiri. Rileks.

8. Banyaklah membaca buku-buku pendidikan, supaya anda bisa menyusun semacam kerangka dalam mendidik anak-anak di rumah. Jadi, jangan cuma baca blog tentang homeschooling saja, karena tulisan di blog biasanya cuma singkat-singkat, pun kurang mendalam. Nah, inilah poin terakhir yang saya dapat. Dulu, saat memulai hs saya lebih banyak membaca buku-buku tentang homeschooling sampai akhirnya saya sadar bahwa, antara homeschooling dengan schooling itu sebenarnya sama, yang beda cuma tempat dan penanggungjawabnya. Jadi, bukankah lebih baik saya mempelajari prinsip-prinsip pendidikan lebih dulu” Soal teknis, bisa disusun belakang berdasarkan kondisi keluarga.

Inilah dia delapan hal yang saya temukan setelah lima tahun menyelenggarakan homeschooling. Kalau boleh, saya mau menambah satu lagi: percaya pada diri sendiri. Di luar sana, ada orang-orang yang bukan sarjana, tidak suka membaca, tidak suka menambah pengetahuan tentang dunia pendidikan, pede-pede aja mendidik anak di berbagai lembaga pendidikan, lah mengapa anda, yang makan sekolahan, kuliahan, suka baca, suka belajar, peduli pada anak, tidak yakin pada diri sendiri?

Trust yourself.

 

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.