Ketika Anak Saya Tidak Mau Membaca Lagi Kisah Nabi

“Aku nggakmau lagi baca cerita nabi!” seru anak saya tadi malam sambil melempar buku yang ia pegang.
“Loh, kenapa?” tanya saya.
Segera saya ambil buku itu, dan membaca sekilas beberapa kisah nabi di dalamnya. Lalu mendadak saya teringat kisah seorang teman yang mengaku trauma membaca kisah para nabi, sampai-sampai tidak berani menyentuh buku semacam itu hingga besarnya.
Saya jadi menyesal tidak membaca buku itu terlebih dahulu sebelum memberikannya pada anak saya.
**

Bila kita memasuki toko buku besar, dengan segera kita disergap pemandangan berikut setiap kali menyisiri rak buku anak-anak: berlimpah ruahnya kisah anak-anak Islam, terutama kisah para nabi. Saya, sebagaimana orang-orang tua lain yang bersemangat mengenalkan segala hal tentang Islam pada anak-anaknya, suka berlama-lama di rak buku seperti ini untuk mencari buku-buku yang cocok. Kadang, saya baca dulu beberapa bagian awal bukunya untuk memastikan penuturan buku itu cocok untuk anak-anak. Tapi, saya tidak selalu punya waktu untuk berlama-lama begini. Kadang, saya melihat judul, sinopsis dan penerbitnya saja. Kalau saya kenal baik penerbitnya, biasanya saya ambil saja. Toh buku itu diterbitkan penerbit Islam yang punya reputasi baik. Dalam logika saya, pastilah penuturan bukunya oke-oke saja. Disinilah kesalahan saya. Terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Beberapa tahun lalu, seorang teman bercerita pada saya. Waktu kecil, dia pernah membaca kisah Nabi Yusuf, dan setelah itu ia sangat ketakutan, bahkan sampai trauma, “Saya nggak mau lagi baca kisah nabi, Kak,” ujarnya pada saya. Sebabnya? Begini. Si penulis, dengan gamblang melukiskan bagaimana saudara-saudara Nabi Yusuf memasukkan sang nabi ke dalam sumur, lalu melumuri bajunya dengan darah. Bagi teman saya, kisah itu horor sekali. Mungkin sehoror cerita Alifa semalam.

“Nah, jadi ceritakan, kenapa kamu tidak mau membaca buku ini?” saya menunjuk buku yang ia lempar.
“Takut,” jawab Alifa.
“Takut kenapa?”
“DI situ dibilang kepala Nabi Yahya dipenggal sama tentara, lalu ada nabi yang badannya digergaji, lalu ada …”

Saya istigfar dalam hati. Kalau begitu cara penulis menuturkan kisah nabi, jangankan Alifa, saya pun tak mau membacanya.
**

Para nabi adalah manusia yang diberi ujian paling berat oleh Allah. Tidak mudah jadinya menceritakan kisah mereka kepada anak-anak. Saya sendiri, selalu menceritakan kisah para nabi itu dengan bahasa sehalus mungkin.
Misalnya untuk kisah Nabi Yunus. Alih-alih mengatakan Nabi Yunus dihukum Allah dengan menyuruh paus menelannya, saya justru bilang,

“Nabi Yunus disuruh Allah kembali ke Ninawa, jadi Allah menyuruh seekor ikan membawa Nabi Yunus kembali ke darat. Karena nggak mungkin kan Nabi Yunus berenang sejauh itu untuk pulang.”

Bagi anak-anak, cara Allah membawa Nabi Yunus kembali itu keren sekali.
Bandingkan dengan komentar anak-anak saya setelah membaca yang versi Allah menghukum Nabi Yunus dengan cara melempar ia ke laut. Bagi mereka, Allah itu pemarah, nabi saja dihukum begitu rupa. Nyesek kan mendengar komentar begini?

Saya sungguh menghargai semangat banyak orang untuk menulis kisah-kisah Islam kepada anak-anak, tetapi, tentu sekadar semangat saja tidak cukup. Perlu ada bekal ilmu lain di dalamnya, di antaranya pengetahuan akan jiwa anak-anak itu sendiri, tahap-tahap perkembangan mentalnya, seni menulis kreatif, seni berbahasa, dan banyak hal lainnya. Berdakwah tanpa ilmu memadai, bukan hanya tidak mencapai sasaran, salah-salah malah menjauhkan orang dari tujuan.

Tentu kita tidak ingin, pasca membaca buku kita, orang malah jadi trauma, bukan?
**

*curhat emak yang sekarang berusaha menenangkan pikiran anaknya dari bayangan para nabi yang digergaji dan dipenggal penguasa.

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.