Homeschooling? Pasti Dia Punya ART

Hal yang agak unik yang saya temui setiap kali ketemu orang yang menanyakan kegiatan pendidikan anak-anak di rumah adalah adanya ‘tuduhan’ kalau saya punya ART alias asisten rumah tangga di rumah. Tuduhan ini didasarkan pada, tidak mungkinnya seorang ibu menyelesaikan segalanya sendiri di rumah itu. Ya ngurus rumah, ya beresin pelajaran hs anak-anak, ya ini, ya itu, dan segalanya. Kalau saya tidak punya ART, maka pasti ada hal di rumah saya yang nggak beres, misalnya rumah berantakan, suami nggak terurus, dasteran sepanjang hari, nggak mandi berhari-hari, dan segala macamnya. Pertanyaan saya: Apakah seorang ibu yang mendidik sendiri anaknya di rumah, harus semenyedihkan itu nasibnya? Banyak kok, kaum ibu yang anaknya sekolah dan rumahnya tetap berantakan. Berantakan atau enggaknya rumah itu, kadang tergantung bagaimana si penghuni mengelola rumahnya. Ada penghuni yang menganggap mengurus hal-hal besar saja sudah cukup, misalnya, nyapu, masak, nyuci. Yang lainnya bisa diurus belakangan, misalnya, membrsihkan kipas angin, menggosok jendela, ngatur ini itu. Ada juga penghuni yang memang prefeksionis banget sama yang namanya kerapian.

Sebenarnya begini ….

Pertama, memang nggak mungkin sebuah rumah diurus seorang ibu saja. Dulu saya memang berpikir bahwa seorang ibu itu mesti bisa multi tasking, ngurus banyak hal sendirian di rumah. Akibatnya, rumah ya sering berantakan ketimbang rapinya. Rak buku yang paling sering kena akibatnya. Lapisan debu kadang bersarang di situ. Tapi, kemudian saya mikir juga. Di rumah hidup lima orang. Kelimanya sama-sama punya waktu 24 jam. Jika masing-masingnya menyumbangkan satu jam waktu untuk membereskan rumah, maka setiap hari kami punya lima jam waktu untuk beres-beres. Maka, mulailah saya membagi tugas. Setiap anak diberi hak sendiri untuk membereskan bagian-bagian rumah. Mereka juga diberi tugas mengurus pakaian kering mereka sendiri, mulai dari memilah, melipat sampai menyetrika (khusus anak yang sudah besar). Si ayah juga punya bagian pekerjaan sendiri. Nah, dengan pembagian seperti ini, kerja saya jadi lebih ringan, saya punya banyak waktu untuk mengajari anak, menulis buku, istirahat, bahkan jalan-jalan.

Kedua, hidup ini lebih banyak saya bawa santai. Santai bukan berarti tidak serius. Santai dalam menyikapi, tapi insyaallah serius dalam berbuat dan memperbaiki. Begini: kalau misalnya suasana rumah lagi chaos, anak-anak bertengkar, ngambekan, saya cenderung berjarak saat melihatnya. Karena dengan itu, saya jadi bisa santai dan cenderung mudah mendapatkan jalan keluar dari masalah tersebut. Dan karena anak-anak melihat emaknya nyantai, mereka akhirnya jadi cepat tenang. Saya melatih diri dengan keras untuk tidak mudah marah, dan terus terang, awalnya ini memang sulit, karena dulu saya orangnya pemarah. Trus karena sering baca buku parenting, pendidikan dan psikologi, saya akhirnya berusaha menerapi diri sendiri. And i think it works. Dan itulah sebabnya kenapa kegiatan belajar kami nyantai dan menyenangkan sekali. Insyaallah tak ada hal yang terlalu berat untuk dijalani.

Sesungguhnya, dengan mendidik diri kita untuk rileks dan bersikap positif dalam berbagai situasi (yang pastinya itu berat sekali), kita juga mendidik anak untuk bersikap serupa.

 

Share Button

Leave a Reply

Your email address will not be published.