Anakku Juara 11

Alifa juara 11. Itu kalimat pertama yang disampaikan ayahnya begitu aku membuka pintu. Di belakangnya, Alifa, putri kami yang masih berumur 6,5 tahun mengacungkan kertas hasil tes bahasa Inggrisnya dengan gembira, “Ïbuuu, aku juara sebelas!!”wajahnya berseri-seri. Ia melompat-lompat dalam perjalanan mencapai aku. Aku tertawa. Kuambil kertas hasil tesnya. Dia mendapat rangking 11 dari 14 murid di lokalnya. Kucium pipinya.

“Kamu hebat,”ujarku. Lalu kupeluk dia, dan kusimpan kertas tesnya. Itu adalah benda berharga Alifa. Kertas pertama yang berisi pengakuan atas hasil kerja kerasnya.

Apa hebatnya menjadi juara 11? kalau ditinjau dari sudut pandang kompetisi, itu sama sekali tidak hebat. Juara 11 dari 14 peserta sama artinya dengan mendapat urutan 4 dari belakang. Waktu aku sekolah dulu, terlempar dari posisi 10 besar rasanya menyedihkan. Sepanjang 12 tahun sejarah persekolahanku selalu diisi dengan kompetisi, keinginan untuk menjadi yang terbaik dari orang-orang. Di SD aku sedih karena selalu juara dua, jengkel   cuma dua kali juara satu. Di SMP, aku senang saat menduduki peringkat pertama penataran P4, menduduki posisi puncak dari lebih 300 siswa baru. Lalu aku jengkel di semester-semester berikutnya karena jarang sekali meraih juara satu, meski sebenarnya aku nyaris tidak pernah keluar dari tiga besar. Di SMA aku marah karena hanya meraih posisi keenam atau ketujuh dari 30 siswa di lokal unggul, sebuah lokal yang hanya dikhususkan untuk anak-anak yang berada di lima besar di setiap unit lokal. Puncaknya aku marah saat hasil tes bakat dan minat mendudukkanku di lokal Bahasa. Saat itu masuk kelas IPA dianggap standar kepintaran. Kelas Bahasa adalah kelas anak-anak ‘buangan’, kelasnya mereka yang mendapat nilai terendah atau yang selalu membuat keributan di sekolah. Aku mendatangi wakil kepala sekolah dan meminta dipindahkan ke kelas IPA. Sang Wakepsek yang baik hati berkali-kali membujukku untuk membatalkan niatku, tapi aku tidak goyah. Saat itu aku selalu merasa berada dalam kompetisi. Kelas Bahasa adalah pertanda ketololanku. Aku menolaknya.

Papalah yang akhirnya menyadarkanku. Papa menyuruhku berpikir yang dalam dan lama. Menyuruhku bertanya pada diri sendiri, apakah aku sungguh-sungguh menyukai kelas IPA atau tidak. Apakah keinginanku itu hanya dikarenakan perasaan gengsi, bukan keinginan yang sebenarnya.

Berhari-hari aku berpikir, sampai akhirnya aku menyadari kesalahanku. Aku seharusnya mendengarkan kata hatiku.

Pada hari namaku dimasukkan Wakepsek ke kelas IPA, aku membatalkan keinginanku. Dengan kesadaran sendiri aku mencoret namaku dari daftar murid IPA. Aku sudah memutuskan untuk menerima hasil tes bakatku. Aku memang suka membaca dan menulis. Mengapa aku harus menolak bagian diriku yang ini?

Aku akhirnya masuk kelas Bahasa, dan aku bahagia. Pada usia 17 tahun itu, ketika aku mulai mendengarkan keinginan hatiku sendiri, aku mulai menemukan siapa diriku dan apa yang kumau dalam hidup ini. Menjadi seorang penulis.

Kompetisi

Bertahun-tahun aku menjalani betapa lelahnya hidup dalam kompetisi. Sesungguhnya, dalam 12 tahun masa sekolahku, aku tidak terlalu mengerti mengapa harus berada di lima besar atau mengapa aku harus bekerja keras untuk menjadi juara kelas. Setiap hari aku seakan dipaksa untuk terus menerus unggul dalam banyak mata pelajaran. Aku harus mengerjakan PR dengan sempurna, sebab nilainya mempengaruhi raportku. Kalau nilai raportku rendah aku tidak akan masuk lima besar dan itu artinya terlempar dari lokal unggul. Itu memalukan. Jika aku tidak mendapat nilai tinggi, aku merasa tidak eksis, tidak dihargai. Aku tidak akan dipilih untuk mengikuti lomba ini dan itu, ikut ini dan itu. Hanya mereka yang memiliki nilai tinggilah yang mewakili sekolah mengikuti berbagai perlombaan. Anak-anak seperti ini akan populer dan disayangi guru. Mereka akan diperhatikan. Mereka menduduki puncak tertinggi dalam ‘rantai pendidikan’ di sekolah.

Setelah aku lulus sekolah, aku mulai merasa semua itu tak ada gunanya. Bukan seperti itu hidup yang seharusnya. Hidup bukanlah sebuah kompetisi, melainkan harmoni. Hidup adalah soal bagaimana membuat diri kita selaras dengan lingkungan sekitar, dan akhirnya keseluruhan semesta.

Arti Kompetisi


Kompetisi, sesungguhnya tidak terlalu berarti. Inilah hal yang pertama-tama kuajarkan pada Ayesha. Ia suka mengikuti aneka lomba dan lebih sering kalah ketimbang menang. Ketika pertama kali kalah, ia sedih sekali, sampai menangis. Dulu, waktu ia masih kecil, sekitar 6 atau 7 tahun, yang bisa kulakukan hanya memeluk dan membelikannya buku cerita dan es krim untuk menghiburnya. Sekarang, setelah usianya 10 tahun yang kuajarkan cuma satu: kalah dan menang itu cuma soal hari.

“Kamu boleh kalah hari ini, tapi jika esok datang, kekalahan itu sudah berlalu, menjadi masa lalu. Makin banyak hari yang kamu lewati, makin jauh kekalahan itu tertinggal. Begitu juga dengan kemenangan. Kalau pun kamu menang hari ini, kemenangan itu toh akan berlalu juga seiring berlalunya waktu. Intinya, bukan soal kamu menang atau kalah, tapi bagaimana kamu bisa lebih baik dari hari ke hari.”

Dia mengerti. Ketika dia meraih juara satu dalam lomba menulis cerita anak tingkat provinsi, dia senang, tapi cuma sesaat. Beberapa menit setelahnya ia kembali seperti biasa. Begitu juga saat tahu ia kalah dalam lomba menulis yang lain, ia juga menanggapi dengan biasa. Sedih sesaat, tapi kemudian berkarya lagi. Yang penting dari seorang anak bukanlah soal menang dan kalah dalam kompetisi, tapi bagaimana membangun mentalnya untuk menjadi seorang yang tahan banting menghadapi jatuh bangun hidup ini. Dan mental seperti ini, tak mesti dibangun dalam kompetisi

Anakku Juara 11


Alifa juara sebelas. Ia tampak senang dan tak terlalu peduli melihat temannya yang lain meraih juara satu dan mendapatkan hadiah berupa voucher diskon biaya les. Yang ia tahu hanya satu, belajar itu menyenangkan, dan juara-juaraan itu hanya bagian dari belajar. Ayah ibunya juga tidak peduli dia juara berapa. Yang dipedulikan Alifa cuma satu: ayah ibunya menerima dia dengan bahagia, tak peduli dia juara satu 1 atau juara 11.

Yang penting dari belajar adalah, apakah pengetahuan atau keterampilan seorang anak sudah meningkat dari masa sebelum ia belajar. Jika meningkat, berarti dia hebat. Cukup itu saja. Orang tua tak perlu membandingkan prestasi anaknya dengan prestasi anak orang lain, sebab, setiap anak dibesarkan dengan cara yang berbeda dan memiliki minat yang berbeda pula. Jika ternyata kemampuan anak tidak ada peningkatan dari sebelumnya, berarti ada yang salah. Orang tua perlu menyelidiki sebabnya, bukan malah marah-marah.

Setiap anak adalah juara, dan seorang juara berhak mendapat kasih sayang dan pemahaman seluas-luasnya.