Bagaimana Mempersiapkan Anak Memasuki Dunia Persekolahan

Masuk sekolah itu bukan semacam take it for granted, alias sudah sewajarnya begitu. Anak dimasukin ke sekolah bukan semata karena usianya sudah enam, tujuh atau delapan tahun. Persekolahan semacam dunia baru yang berbeda sama sekali dengan dunia yang sebelumnya dijalani anak-anak. Dunia persekolahan memiliki aturan, sistem dan suasananya sendiri. Jika orang tua tidak mempersiapkan anak memasukinya, mereka akan kagok berada di dalamnya.

Upaya mempersiapkan anak memasuki sekolah (school readiness) ini tidak dilakukan beberapa bulan sebelum jadwal persekolahan dimulai, tetapi harus sudah dilakukan bertahun sebelumnya, kalau perlu sejak anak masih bayi. Semakin panjang dan bagus persiapan, semakin besar kemungkinan anak mendapat keberhasilan di sekolah.

Berikut beberapa upaya yang bisa dilakukan orang tua dalam rangka mempersiapkan anak. Satu yang perlu diingat, apapun metodenya, harus dilakukan dalam suasana menggembirakan dan penuh respek. Tidak ada upaya pemaksaan, yang ada hanyalah jalinan kasih sayang.

1. Perkuat jalinan kekeluargaan

Jalinan kekeluargaan dan kasih sayang yang erat akan mendatangkan satu kemampuan menakjubkan dalam diri anak, yakni kemampuan mengendalikan emosi. Hal ini penting saat anak memasuki dunia persekolahan dan mengalami hal-hal di luar ekspektasinya. Ia tidak akan out of control atau sebaliknya merasa depresi karena tekanan. Banyak kasus saya temui, anak-anak yang berasal dari keluarga yang erat hubungan emosinya, dan kuat respeknya pada anak, bisa menghadapi semua permasalahan di sekolah dengan easy going, karena mereka tahu, keluarga mendukung mereka di belakang. Hal ini mirip dengan sistem imunitas tubuh. Ketika sistem imun kuat, virus tidak akan berdaya.

Cara membangun jalinan kasih sayang ini dimulai sejak awal kelahiran. Dalam tahun-tahun pertama hidupnya, anak harus lebih banyak dekat dengan kedua orang tuanya. Banyak diajak berkomunikasi, banyak melakukan kontak fisik. Kontak fisik mendatangkan ketenangan. Saya sampai sekarang masih memeluk anak-anak saya sesering dan selama yang mampu saya lakukan. Setiap memeluk, saya bisikkan kata-kata sugestif pada mereka, dan bicara tentang betapa bangganya saya pada mereka karena mereka sopan, suka belajar, suka salat di musala, suka berteman, dll. Dengan mengucapkan kata-kata positif tentang diri mereka, akan muncul konsep diri positif dalam diri anak-anak. Anak-anak yang punya konsep diri positif memiliki rasa percaya diri yang kuat dan insyallah mampu bertahan dan bangkit ketika mengalami sebuah permasalahan.

2. Beri pengalaman belajar sebanyaknya.

Pada masa balita, semua jendela perkembangan di otak terbuka lebar. Mereka mudah mempelajari banyak hal, tetapi, ini bukan berarti orang tua memasukkan mereka les ke A B C D. Pada masa balita yang perlu dilakukan orang tua hanyalah menyemai benih kemampuan dasar. Jika orang tua sudah menyemai benih, orang tua bisa berharap mendapatkan pohon berbuah lebat suatu saat nanti, jika benih tak pernah disemai, apa yang bisa diharapkan?

Kemampuan dasar yang harus diasah adalah motorik halus dan kasar, logis-matematis (dengan mengajar anak soal ukuran, bentuk, warna, main puzzle, maze), kemampuan analitis (dengan membiarkan anak main masak-masakan, dokter-dokteran dan permainan imajinatif lainnya. Saat bermain peran, mereka akan menemukan permasalahan, di situ mereka belajar menganalisisnya dan menemukan pemecahan masalahnya), kemampuan bahasa (dengan banyak dibacakan buku cerita–bukan mengajarinya calistung), dst. Topik mengenai jendela perkembangan ini insyaallah akan saya bahas di kesempatan berikut. Dengan membawa anak travelling, kita juga memberikan pengalaman baru untuknya, seperti pengalaman budaya, antropologi, cara menyelesaikan masalah, dll.

Tanda Anak Siap Sekolah


Anak yang siap memasuki dunia persekolahan dapat dilihat dari tanda berikut:

1. Bisa memecahkan persoalan (sederhana)

2. Ada simpati-empati

3. Kreatif

4. Memiliki rasa penasaran terhadap banyak hal (curiosity)

5. Bisa mengendalikan diri

6. Bisa bekerja sama