Bagaimana Saya Mengatur Penggunaan Gawai Untuk Anak

Saya tidak bisa menihilkan gawai dalam homeschooling saya karena sebagian materi belajar anak saya berhubungan dengan aplikasi.  Namun,  ada beberapa syarat yang saya terapkan sebelum memberikan gawai ke anak.

1. Anak saya sudah harus melewati usia lima tahun. Lima tahun pertama adalah masa anak saya mengembangkan sensor-motornya, sesuatu yang tidak mampu dikembangkan oleh gawai.  Pada lima tahun pertama anak saya lebih banyak melipat kertas,  menggunting,  menempel,  main tanah, membuat prakarya, main congklak,  dan lainnya.

2. Anak saya sudah harus mencapai standar seribu buku.  Sejak anak pertama,  saya sudah memancang target membacakan seribu buku untuk anak,  sebelum mereka berusia lima tahun. Saya tidak ingin anak melompat fase membaca, menganalisis dan berpikir mendalam. Adalah berbahaya, saat anak belum sampai di fase suka membaca,  sudah disodori gawai. Struktur otaknya akan cepat berubah menjadi dangkal , sehingga ia kurang punya kemampuan berpikir mendalam.

3. Anak saya sudah harus bisa berkomunikasi lisan dengan baik, membaca, menulis dan membuat aneka gambar serta karya kreatif. Selama dia belum bisa,  saya tidak akan memberinya gawai.

Setelah anak saya memenuhi ketiga syarat di atas,  maka aturan berikut diterapkan:

1. Gawai digunakan dua kali seminggu,  tiap sabtu dan minggu.  Waktunya dibatasi,  maksimal satu jam saja tiap anak.  Apa yang mereka mainkan di gawai?  Hanya game edukasi seperti catur, maze, block game,  atau permainan semacam dress game dan pelihara hewan virtual.  Saya mengetahui seluruh aplikasi yang diunduh karena mereka memakai gawai saya atau ayahnya,  atau tablet kerja saya.  Yep,  saya tidak memberikan gawai pribadi ke anak. Anak butuh hape?  Saya kasi.  Jenisnya Nokia jadul seharga dua ratus ribu yang cuma bisa buat nelpon dan sms.

2. Anak saya yang pertama saya izinkan membeli tablet sendiri dengan uang hasil jerih payahnya, dengan catatan sebagai berikut: tidak ada sim card. Tablet dibeli hanya untuk memenuhi kebutuhan belajarnya,  yaitu belajar menggambar digital,  membuat animasi, dan belajar mengedit video. Jika dia butuh internet,  bisa gunakan hotspot Wi-Fi saya atau ayahnya.  Dia hanya boleh memakai tablet tiap Senin, Rabu dan Jumat, masing-masing empat jam. Di akhir waktu dia harus melaporkan ke saya apa saja proyek belajar yang berhasil dia selesaikan. Saya harus melihat hasilnya.

Waktu empat jam saya dapat dari pengalaman,  bahwa untuk menyelesaikan sebuah proyek digital rata-rata saya butuh empat jam.

3. Saya mendaftarkan semua akun di tabletnya, mulai dari gmail, YouTube sampai browser googlenya dengan email saya.  Ini membuat saya mudah melacak histori penelusuran internetnya dari hape saya sendiri,  meski saya tidak di rumah.

4. Semua akun media sosial anak-anak saya tersambung ke akun media sosial saya. Nomor wa yang ia beri ke teman-temannya adalah nomor wa saya,  karena anak saya tidak punya wa sendiri. So, boy, I know any private messages that you tried to sent to my daughter.  Don’t mess with me.

Saya percaya pada anak-anak saya, dan mereka tahu kalau mereka dipercaya.  Hanya saja,  di dunia yang makin gila ini,  saya meninggikan pagar untuk anak-anak saya,  sampai mereka bisa membangun pagar mereka sendiri.

Berikut ini adalah screenshoot riwayat tontonan YouTube anak-anak saya akhir pekan ini di tablet si kakak,   dilacak dari hape saya sendiri