Mengenalkan Konsep Perkalian

Sampai usia anak saya sembilan tahun, pelajaran matematika mereka baru berupa konsep-konsep matematika saja. Dan sampai mereka usia 12 tahun, pelajaran matematikanya seputar kali, bagi, tambah, kurang serta konversi (persentase, desimal, satuan luas, isi, dll). Kalau kemampuan matematika putri saya diadu dengan anak-anak yang sudah belajar akar dan pangkat, misalnya, jelas putri saya kalah. Ya gimana mau bisa ngerjain, dia jarang belajar itu kok. Tapi, kalau dia ikut bimbel matematika seminggu, dia bisa menguasai semua pelajaran yang nggak pernah saya ajarkan, dan itu pernah terjadi. Intinya, selow-lah mommies. Pengetahuan itu bukan untuk dikompetisikan, tapi untuk dimanfaatkan buat kebaikan diri sendiri dan orang di sekitar.

Okeh, balik ke konsep perkalian. Ada banyak cara mengajarkan konsep perkalilan ini, nah salah satunya ini, menghitung luas rumah. Jadi, anak saya belajar menghitung melalui petak-petak keramik, dan itu lebih kontekstual. Sebuah pelajaran baru terasa nyambung bagi anak-anak, jika pelajaran itu memberi makna. Jadi, saya nggak ingin tergesa mengenalkan perkalian angka itu ke anak. Toh pada usia tertentu, jika diajar dengan baik, semua anak juga bisa mengali dan membagi. Sama halnya dengan keahlian membaca. Jika anak diajar dengan baik, pada usia tertentu kemampuannya juga sama dengan anak lainnya, tak peduli anak lain itu bisa membaca umur empat atau sepuluh tahun. Nah itu maksud saya.

Selow ya mommies.

Ini adalah lembar belajar matematika putri kedua saya. Saya bikin ini saat usianya masih delapan tahun. Memecahkan soalnya gampang sekali. Nggak sampai dua menit beres. Ini juga bukti, kalau sebuah pelajaran diberi makna, akan mudah dipahami.

Bagi yang ingin mengunduh materi belajar ini, silakan meluncur ke kotak unduhan yaaa