Teknik Penulisan Buku Cerita Anak ala Room to Read

Room to Read, apaan tuh? Mungkin ini ya yang terbersit di benak teman-teman semua saat membaca judul di atas. Room to Read adalah sebuah program dari lembaga Room to Read internasional yang bertujuan menyediakan bacaan-bacaan berkualitas untuk anak-anak usia sekolah dasar. Buku-buku yang diterbitkan Room to Read (selanjutnya disebut RtR saja) berjenis buku cerita bergambar. Buku-buku ini disebar secara gratis ke berbagai pelosok di Indonesia, untuk membantu mengatasi langkanya buku bacaan anak bagus di daerah.

Sebelum cerita soal RtR, saya mau bagi info kelas penulisan dulu yah. Bagi yang ingin mengikuti kelas penulisan saya, baik kelas penulisan cerita anak, maupun dewasa, bisa kontak narahubung di brosur berikut yah. Seperti biasa, kelas saya terbagi  dua, yakni kelas anak dan kelas dewasa.

 

 

Okeh, kembali ke Room to Read.

Room to Read, menurut saya, merupakan proyek yang benar-benar idealis. Idealisme ini sudah terlihat sejak pemilihan penulis, hingga pemilihan tema cerita. Nggak semua penulis yang mengajukan diri bakal terpilih, dan tidak semua penulis yang terpilih mengikuti workshop, bakal dipilih buat jadi penulis buku Room to Read. Pemilihan tema dan penulis dilakukan sendiri oleh direktur RtR, Mahesh, yang berkebangsaan Srilanka. So, meski kenal dan suka haha hihi ama mentor-mentor RtR, itu bukan jadi jaminan kamu bakal lolos seleksi.

Saya beruntung banget terpilih menjadi salah satu penulis buku RtR. Tema yang saya ajukan adalah kearifan lokal masyarakat Aceh menghadapi gempa bumi dan tsunami. Saat presentasi karya, saya menjelaskan tujuan pemilihan tema, yaitu untuk terus memelihara kearifan lokal ini. Seiring waktu, orang kadang lupa ajaran nenek moyangnya, hingga ketika bencana terjadi, mereka gagap bertindak.

Banyak sekali pengalaman berharga yang saya dapatkan selama workshop. Pengalaman paling utama tentu pengalaman mendapatkan ilmu. Dari workshop ini saya belajar secara lebih detail bagaimana mengembangkan sebuah gagasan menjadi sebuah cerita yang sangat bersahabat dengan anak, baik dari sisi narasi, alur, maupun tampilan visual. Kalau dilihat-lihat, naskah-naskah RtR terlihat sederhana, tapi, di balik kesederhanaan itu ada proses penulisan yang berdarah-darah. Semakin sederhana sebuah karya, semakin rumit penulisannya, apalagi, naskah RtR harus melalui uji lapangan sebelum dianggap layak diterbitkan. Naskah saya sendiri, Smong, diuji di SD Cempaka Putih. Saya ikut mengobservasi apakah naskah yang saya tulis itu dipahami anak atau tidak. Jika anak kesulitan memahaminya, maka perlu didiskusikan lebih lanjut bagian apa yang perlu direvisi. Saya ingat, habis uji lapangan itu, tim RtR menghabiskan waktu selama lima jam untuk membahas hasil observasi. Selama karir kepenulisan saya, inilah rasanya proses penulisan buku yang wow banget.

Saya sudah menuliskan ulang teknik penulisan RtR ini. Teman-teman bisa mengunduhnya di sini yah