Hati Musa

“Apakah terus ya, Rasul?” tanya Yusya bin Nun di tepi Laut Merah. Bersamanya ada ribuan Bani Israil yang putus asa melihat laut terbentang di depan sana. Jauh di belakangnya lagi, debu-debu mengepul, berasal dari hentakan kaki-kaki kuda prajurit Firaun yang menekan dan mendesak.

“Ya,” jawab Musa, sang pangeran Mesir yang tercampakkan itu, teguh.

Di saat-saat paling gelap, saat-saat paling pekat, ketika tak tampak harapan apapun di depan sana, Allah akan hadir. Setiap malam, di sepertiga akhir, Ia akan turun dan merayu, ‘wahai hambaKu, berdoalah padaKu, akan Kukabulkan untukmu’.
Maka keputusasaan mana lagi yang bisa mengikatmu ketika Sang Maharaja sudah berkehendak? Bahkan di lorong paling panjang dan pekat sekalipun, selalu ada cahaya di ujungnya.
‘Dan jika hambaKu bertanya tentang Aku, katakanlah, bahwa Aku dekat’.
Lebih dekat dari urat leher mereka sendiri.
Maka, ketika air Laut Merah sudah mencapai leher kuda Yusya, dan ia bertanya, ‘apakah terus ya, Rasul?’ Musa pun menjawab, “Ya.”
Apa yang membuat arasy berguncang? Itulah iman dan jeritan permohonan dari hati yang mengiba, hanya kepada Dia, sang muasal seluruh jagad raya. Di Laut Merah, angin menderu, air tersibak, memberi jalan untuk Musa dan pengikutnya.

Ingatlah ini, ketika tiada jalan yang tampak di depanmu, Allah yang akan menciptakannya. Untukmu.
Itu kalau kau percaya.
Seperti Yusya.
Seperti Musa.