Ketika Ayah Berbicara Tentang Cinta dan Kehidupan Pada Anak Perempuannya

Suami saya senang punya anak perempuan. Salah satu keinginannya dulu saat baru merit adalah,  diberi anak pertama perempuan.

Alhamdulillah terkabul.

Trus,  kami diberi kesempatan punya anak lagi.  Suami saya pingin anak perempuan lagi.  Alhamdulillah terkabul.

Nggak tahu juga kenapa suami pingin anak perempuan,  padahal rata-rata temannya pingin punya anak, terutama anak pertama,  laki-laki.

“Perempuan itu pintar dan pemberani,” ujar suami saya,  “Orang hebat,  anaknya perempuan semua,” ujar suami saya,  bercanda. Dia merujuk Nabi Muhammad dan Hatta.  Saya cuma ketawa.

Tapi,  yang akan saya ceritakan berikut bukanlah soal seberapa senangnya suami saya punya anak perempuan,  saya mau cerita soal suatu hari di keluarga saya,  yang menunjukkan betapa dewasanya suami saya menghadapi perubahan-perubahan dalam diri anak-anak perempuannya.

**

Saya lupa hari apa itu,  saya cuma ingat,  saat itu menemukan ada anak cowok yang menyukai putri saya.  Well,  yeah,  ini anak saya masih kecil,  masih 12 saat itu,  si anak cowok juga.  Tapi,  di zaman sekarang,  menemukan anak usia belasan saling suka bukan hal aneh lagi.  Kata orang namanya cinta monyet. Saya mendiskusikan hal ini sama suami. Awalnya saya rada syok juga. Astaga,  ternyata selama ini saya terlalu keasyikan menjalani masa kanak-kanak putri-putri saya,  lupa kalau mereka mulai beranjak remaja.

Suami saya bilang, “Biar saya yang urus ini.”

Maka,  di suatu siang yang cerah dan menyenangkan,  sang ayah membawa putrinya makan di kafe,  dan membiarkan putri saya memesan makanan apapun yang disukainya.

Sang ayah memperlakukan putrinya dengan sangat baik. Bercerita dengan suara lembut, dan ketika sang anak melakukan kesalahan,  dia mengingatkan dengan lembut.

Lalu terjadilah percakapan yang mengharukan.

“Nak,  ingatlah hari ini ketika kamu pergi bersama ayah,  dan ayah memperlakukanmu dengan lembut dan baik.  Inilah standar yang harus kamu terapkan pada setiap cowok,  yang suatu saat nanti,  mungkin menyukaimu. Bersama ayah,  kamu merdeka jadi diri sendiri. Kamu tidak dikasari,  tidak pernah dicaci maki, kamu dihormati, diperlakukan dengan respek dan sopan. Ingatlah hari ini ketika kamu besar nanti dan menemukan cowok yang menyukaimu. Nilailah dia dengan standar yang ayah tunjukkan hari ini.”

Putri saya mendengarkan kata-kata ayahnya dan mengangguk.

Mereka lalu mengobrol lama sekali,  sangat dekat dan akrab, sangat terbuka.  Begitu obrolan itu selesai,  dan mereka pulang,  saya melihat ada sesuatu yang baru di wajah putri saya. Sesuatu yang lebih matang dan kepercayaan diri yang tinggi.

Saya belajar satu hal.

Untuk memiliki seorang anak yang berpikiran dewasa,  pertama-tama,  orang tua harus mendewasakan dirinya menghadapi perubahan anak-anaknya.

Suami saya menunjukkan hal itu pada saya.

Dia bukan hanya menyikapi setiap perubahan dengan matang,  tapi juga hadir dalam setiap perubahan itu,  dan menemani anak-anak melewatinya.

Saya pikir,  inilah salah satu fungsi terpenting orang tua.

Mendewasakan,  menemani,  menunjukkan arah pada anak-anaknya