Kupu-Kupu Fort de Kock: Petarung dari Benteng Fort de Kock

Saya selalu suka membicarakan Kupu-Kupu Fort de Kock, karena, bukan saja ini novel pertama saya setelah vakum menulis selama hampir tujuh tahun, tapi juga ini novel silat pertama saya. Novel ini mendapat sambutan hangat dari pembaca, dan saya cukup banyak membaca ulasan positif dari mereka. Satu di antara ulasan itu dimuat di Jawa Pos, ditulis oleh Bang Abdullah khusairi. Anda bisa membaca beberapa ulasan itu di sini. 

Novel ini berlatar Minangkabau. Saya menghabiskan waktu cukup lama untuk melakukan riset, terutama riset tempat dan filosofi silat itu sendiri. Saya juga menuturkannya dengan cara yang berbeda dari novel-novel saya sebelumnya. Bukan hanya plotnya yang maju mundur, tapi juga saya memecahnya menjadi beberapa fragmen yang bisa dibaca terpisah. Saya ingat membaca sebuah ulasan di instagram tentang cara penuturan ini. Si pengulas merasa sangat puas begitu halaman terakhir selesai ia baca. Bukan hanya makna yang dibawa cerita ini cukup dalam, tapi juga model penceritaannya sangat baru dan menarik baginya. Yang lucu bagi saya, ia kaget begitu tahu penulisnya adalah perempuan, sebab, selama ini penulis novel silat selalu laki-laki.

Pembaca Kupu-Kupu Fort de Kock beberapa kali meminta saya menulis sambungan novel ini. Well, yah, novel ini sebenarnya ada sambungannya. Dulu sempat mau diterbitkan sebuah koran, tapi kemudian tidak jadi. Saya gak ingat alasannya. Draftnya masih mengendap di komputer saya. Semoga suatu saat nanti saya bisa mempublikasikan lanjutannya.

Kupu-Kupu Fort de Kock edisi baru (dengan sampul baru) akan diterbitkan Basabasi pada Januari 2021. Info ordernya menyusul. .