Kurikulum Homeschooling: Bagaimana Saya Menemukan Cara Menyusun Materi Belajar

Salah satu yang paling menantang dalam penyelenggaraan homeschooling itu adalah, merancang kurikulum belajarnya.  Ada tantangan-tantangan yang harus ditaklukkan, serupa:

  1. Apa saja mata pelajaran yang harus diberikan
  2. Apa saja materi pelajaran itu
  3. Apa saja metode yang harus dipakai
  4. Apa standar keberhasilan belajar
  5. Setelah anak menguasia satu hal, apa lagi yang harus diberikan

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang berkesiur di kepala saya saat memulai homeschooling dulu. Di awal-awal belajar, saya pernah membeli beberapa buku pelajaran sekolah, untuk mempelajari isinya. Saat itu, saya berharap, dengan mempelajari semua mata pelajaran itu, saya tahu apa yang harus diberikan ke anak.

Tapi, semakin saya pelajari, semakin saya tidak tahu apa yang harus diberikan ke anak.

Saat saya mempelajari tentang siklus air, misalnya, saya bertanya ke diri saya: oke, saya tahu siklus air itu begini dan begitu, terus apa?

Pertanyaan “Terus apa” ini selalu bergaung di kepala saya.

Ada banyak “terus apa” yang saya tidak mengerti. Misalnya:

  1. Oke, saya sudah belajar tentang tata surya, terus apa?
  2. Oke, saya sudah tahu tentang induk kalimat dan anak kalimat, terus apa?
  3. Oke, saya mengerti tentang klasifikasi hewan, terus apa?

Semakin banyak “terus apa”  ini bergaung, semakin letih saya, hingga akhirnya saya singkirkan semua buku itu.

Saya bingung dan tertekan. Dan di satu titik, saya mempertanyakan keputusan saya untuk meng-homeschooling-kan anak saya, karena ternyata saya tidak tahu apa-apa.

Namun saat itu ada yang menguatkan saya, yaitu anak saya sendiri.

Setiap kali melihat dia gembira bersama saya, saya jadi memikirkan ulang semua keputusasaan saya yang tidak beralasan.

Saya nyaris putus asa, karena saya tidak tahu. Itu saja. Yang perlu saya lakukan hanya menghancurkan kotak ketidaktahuan itu dengan suatu cara.

Akhirnya saya ambil lagi buku-buku pelajaran itu, dan di depan benda-benda itu saya bertanya, ‘sebenarnya untuk apa putri saya harus mempelajari kamu?

Pertanyaan inilah kunci yang membuka semuanya. Begitu saya menemukan pertanyaan ini di kepala saya, semua dinding keraguan yang melingkari diri saya langsung hancur.

Saya sudah memulai homeschooling dengan salah.

Saya memulainya dengan ‘apa yang harus dipelajari anak saya’, padahal seharusnya, ‘mengapa anak saya harus mempelajari ini’.

Saya menyingkirkan lagi buku-buku pelajaran itu dan mencari buku-buku lain. Kali ini saya memutuskan mempelajari filosofi semua ilmu itu. Saya jungkir balik mempelajari filsafat matematika, filsafat sains, filsafat ilmu, filsafat pendidikan. Berbulan-bulan saya membaca hasil riset dari puluhan, bahkan mungkin ratusan jurnal. Baik riset yang dilakukan peneliti dalam negeri, maupun luar. Baik buku yang dihasilkan pemikir kontemporer, maupun mereka yang hidup di masa lalu. Saya mempelajari semua pemikiran, semua metode belajar. Mulai dari pemikiran yang dihasilkan pemikir Islam, sampai yang bukan. Saya membuat banyak sekali catatan. Banyak sekali pertanyaan. Banyak sekali jawaban.

Nyaris setiap saat saya hanya memikirkan soal ini saja.

Bahkan, saya selalu memanfaatkan wifi di manapun untuk mencari jurnal-jurnal yang bisa saya pelajari.

Saya juga membaca kurikulum pendidikan beberapa negara maju.

Saya juga mempelajari beberapa hasil tes skor pendidikan negara-negara. Mempelajari analisisnya.

Hingga akhirnya saya mulai bisa menemukan sebuah kerangka yang sedikit utuh, mengenai bagaimana seharusnya sebuah pendidikan.

Setelah menemukan ini, pikiran saya jadi lebih lapang. Segalanya jadi lebih mudah. Akhirnya saya tahu apa itu matematika, sains, bahasa, apa tujuannya, mengapa dan bagaimana semua itu dipelajari.

Saya lebih mudah menyusun materi belajar untuk anak-anak saya, karena saya sudah mulai memahami pondasinya. Mengerti metodologinya. Tahu alur berpikirnya.

Ini juga membuat saya lebih mudah membuat metode belajarnya.

Khusus di bidang yang memang jadi fokus saya, yaitu bahasa, saya jadi lebih mudah menemukan aneka metode kreatif yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Sebab, sebelum merancang materi, yang terbayang pertama kali adalah kata “mengapa”, dan “untuk apa”. Ketika saya berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, saya bisa menyusun materi yang sangat mudah dipahami anak.

Pada akhirnya saya menyadari satu hal, pendidikan itu sebenarnya sederhana.

Bisa dirumuskan jadi dua hal:

Pertama: Mengapa engkau melakukannya?

Kedua: Untuk apa engkau melakukannya?

Dan bukankah sebenarnya ini adalah pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup manusia, yang terkadang, manusia masa kini susah menjawabnya.