Kurikulum Homeschooling: Pelajaran Bahasa di Rumah Kami

Pelajaran bahasa bisa dikatakan menempati peringkat teratas dalam daftar mata pelajaran di rumah. Alasannya sederhana. Ilmu pengetahuan diantarkan dengan bahasa. Pelajaran agama, tafsiran kitab suci, diantarkan dengan bahasa. Bagaimana seseorang bisa menguasai ilmu pengetahuan jika ia tidak menguasai bahasa? Bagaimana ia bisa menarik makna, mengambil kesimpulan, jika tidak memahami bahasa? Jadi, menguasai pelajaran yang satu ini mutlak sifatnya.

Tapi pelajaran bahasa yang bagaimana? Apakah cukup dengan bisa bercakap-cakap saja? Apakah cukup dengan bisa membaca abjad saja? Tidak. Suara percakapan, dan abjad dalam tulisan hanya medium untuk mengantarkan makna bahasa. Anak tidak cukup hanya diajari bagaimana membaca M-E-J-A menjadi MEJA, tapi ia juga mesti diajari makna dari kata MEJA itu sendiri. Nah, itu baru satu kata. Jika anak menemukan sebuah kalimat, misalnya: Api bersifat panas. Dia tahu maksud kalimat itu apa. Lalu, ketika dia dihadapkan pada sebuah paragraf, dia tahu apa makna yang ada di dalam paragraf itu. Dia bisa menangkap gagasan-gagasan yang disampaikan penulisnya. Lebih jauh lagi,  ia juga harus belajar bagaimana menyimpulkan gagasan dan menganalisisnya, sehingga ia bisa bersikap: menolak atau menerimanya.

Apa tanda anak menguasai pelajaran bahasa? Ada lima tandanya:

  1. Dia bisa menangkap gagasan dari sebuah pembicaraan atau tulisan
  2. Dia bisa menganalisis gagasan itu
  3. Dia bisa menyimpulkan hasil analisisnya
  4. Dia bisa bersikap terhadap gagasan itu.
  5. Dia bisa mengungkapkan pendapatnya terhadap sebuah gagasan

Jika seorang anak tidak menguasai lima poin di atas, seberapa tinggi pun nilai bahasa di raportnya, bisa dikatakan, dia belum menguasai pelajaran bahasa yang sebenarnya.

Kurikulum Bahasa di Kegiatan Homeschooling Kami

 

Setidaknya kurikulum bahasa dalam keluarga saya mencakup sepuluh hal:

  1. Read Aloud atawa membacakan cerita. Ini kegiatan rutin setiap malam, sejak anak-anak saya masih bayi. Saya atau mereka memilih buku untuk dibacakan. Jenis bukunya bervariasi, tergantung mood anak-anak. Kadang dongeng, kadang cerita nabi dan sahabat, kadang buku-buku pengetahuan populer. Saat mereka bayi dulu, umumnya buku yang saya bacakan adalah fabel-fabel Aesop. Mengapa Aesop? pertama, karena tokoh-tokohnya hewan, yang disukai anak-anak, kedua, karena alur ceritanya sederhana, ketiga, karena banyak sekali pelajaran moral dalam cerita-ceritanya. Saya punya beberapa buku fabel Aesop. Yang paling sering dibaca adalah buku dongeng Aesop yang paling tebal, paling banyak ceritanya, dan paling banyak gambarnya (gambarnya lucu-lucu). Kalau nggak salah terbitan BIP.
  2. Drama. Ya, drama adalah pelajaran bahasa yang penting bagi saya karena menyangkut kemampuan mereka mengekspresikan gagasan secara lisan dan gestur. Sejak kecil anak-anak sudah terbiasa memainkan drama-drama mereka sendiri. Makin besar, mereka makin terlatih bikin naskah drama, bahkan membuat video drama sendiri. Salah satu drama yang mereka buat berjudul Tiga Permintaan, pernah saya upload di Youtube saya (kanal Maya Lestari Gf)
  3. Structuring a Story.  Menyangkut bagaimana menyusun alur pikiran untuk menghasilkan sebuah cerita yang menarik. Umumnya metodenya dengan mempelajari buku-buku bagus. Anak-anak belajar bagaimana pengarang-pengarang hebat menyusun ceritanya.
  4. Reviewing atawa ulasan. Ini merupakan pelajaran mengulas buku atau film. Dalam materi ini anak-anak belajar menganalisis cerita.
  5. Puisi. Dalam pelajaran ini anak-anak belajar mengekspresikan gagasan dalam kalimat-kalimat sarat makna. Di sini mereka juga belajar diksi.
  6. Writing prose, alias belajar prosa. Di sini anak belajar mengarang
  7. Thesaurus-rhyme. Nah di sini anak belajar diksi, sinonim, antonim, rima. Ini penting untuk mengasah kepekaan pada kata-kata, sehingga mereka bisa menyusun kalimat yang enak dibaca. Metodenya? macam-macam, umumnya dikaitkan dengan pelajaran puisi. Kadang metodenya dengan membuat pantun dan syair. Kadang dengan permainan menyambung kata.
  8. Writing prompt. Nah ini hampir sama dengan pelajaran mengarang, hanya saja, di pelajaran ini saya memberi beberapa gagasan cerita, dan mereka mengembangkannya. Writing prompt merupakan pelajaran untuk mengembangkan imajinasi cerita.
  9. Komik. Saya mengajari anak membuat dialog yang baik dengan aneka komik kosong. Mereka menyusun dialog-dialognya sendiri di situ.
  10. Fracturing folklore atawa mengubah alur cerita-cerita rakyat. Ini merupakan cara lain untuk mengembangkan imajinasi. Anak-anak menulis ulang sebuah cerita yang mereka kenal, misal, kisah Cinderella, tapi, ada elemen cerita yang mereka ubah, misalnya alurnya, karakternya, dll.

Muncul pertanyaan: Lalu bagaimana dengan EYD/PUEBI? Bagaimana dengan SPOK kalimat? Bagaimana dengan pelajaran imbuhan? bagaimana dengan pelajaran kalimat, anak kalimat? Bagaimana dengan ini itu ini itu?

Begini.

Bagi saya, hanya ada satu cara untuk mempelajari bahasa secara efektif, yakni: dengan menggunakannya. Saat anak-anak menggunakan bahasa secara aktif, pada saat itu juga, teori bahasa pelan-pelan mereka pahami dengan bantuan pembimbingnya. Perlahan mereka akan memahami tata bahasa. Kemampuan itu bertumbuh sesuai kematangan pemiliknya. Kemampuan yang didapat dengan cara seperti ini akan bertahan, karena melekat menjadi adab. Percayalah 🙂

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.