Teori Parenting: Kursi Hukuman

Saya ingat,  dulu saat anak saya masih satu,  dan masih balita,  saya pernah punya kursi hukuman.  Sebabnya satu,  saya membaca sebuah buku parenting yang memberi saran,  kalau anak ‘nakal’, dia harus diberi ‘break’,  menyepi di suatu tempat selama beberapa menit, supaya dia mengerti bahwa dia telah melakukan kesalahan.

Saya masihlah orang tua yang mentah sekali waktu itu.  Saya pikir,  oh ya,  ini benar juga.  Jadi,  saya jadikan kursi pink kesukaannya sebagai tempat dia ‘break’ kalau ‘nakal’.

Saya melakukan itu sampai sekitar tiga kali kalau gak salah.  Ketika dia berulah,  berteriak gak bisa ditenangkan, misalnya,  saya akan dudukkan dia di kursi pink itu dan bilang,  ‘kamu duduk di sini sampai tenang, setelah itu baru kita ngomong lagi’.  Biasanya,  setelah saya dudukkan di situ dia jadi menangis.

Di kali terakhir saya mendudukkan dia ke situ,  ada yang menyentuh perasaan saya.  Saat dia ‘nakal’ lagi, lalu saya angkat dia untuk duduk di kursi pink itu,  dia berteriak-teriak tidak mau. Lalu,  setelah duduk di sana dia menangis mengiba.  Saat itu ada yang menyentak di hati saya.  Langsung saya berteriak ke diri sendiri,  apa-apaan saya ini.  Saya sudah merusak citra kursi kesayangannya menjadi sebuah momok menakutkan untuk dia.  Dan lagi,  mengapa saya harus mengikuti nasihat parenting di buku itu,  nasihat penulis yang bukan siapa-siapa saya,  yang tidak tahu menahu tentang kehidupan anak saya.  Mengapa pula saya menerimanya begitu saja tanpa ada proses menganalisis sebelumnya.  Parenting adalah soal kasih sayang.  Puncak parenting adalah cinta dan pengorbanan,  bukan hukuman gak jelas seperti ini.

Akhirnya saya angkat anak saya dari kursi itu,  menggendongnya.  Dia terisak-isak di pelukan saya.  Hati saya seperti disayat-sayat.

Anak-anak balita belum bisa memahami serangkaian konsep abstrak,  jadi,  ketika orang dewasa mengatakan dia melanggar aturan dan karenanya harus dihukum,  yang dipahami anak bukan melanggar aturannya,  tapi penghukuman yang dilakukan,  karena itu lebih kongkret ia alami.  Jika terus terjadi,  itu akan mempengaruhinya.

Memang,  menjadi orang tua itu tidak mudah,  setiap hari kita harus belajar ilmunya,  tanpa berhenti,  tanpa pernah merasa cukup.  Namun,  jangan pernah jadikan diri kita sebatas ember penampung nasihat parenting. Menerima semuanya,  tanpa saringan apapun. Tetap,  harus ada saringan,  harus ada dialog sebelumnya dengan diri kita sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti ‘cocok nggak ini diterapkan di anak saya’,  ‘pas gak bila keluarga saya menerapkan ini’,  harus terus menerus dikembangkan,  agar kita tidak salah langkah.

Sebab,  kadang,  teori pengasuhan sebatas pengalaman penulisnya,  yang boleh jadi,  memiliki kehidupan,  pandangan,  keluarga,  latar belakang,  jauh berbeda dengan pembacanya.

Ngomong-ngomong soal kursi hukuman itu,  pasca kejadian di atas,  saya tidak lagi menggunakannya.  Ketika anak saya mulai berulah,  saya cepat memeluknya,  menciumnya, lalu bicara dengan lembut padanya.  Ketika dia tantrum,  saya juga tidak membiarkannya,  seperti banyak teori parenting yang beredar. Saya tidak mau anak saya menjerit keras dalam waktu lama,  karena saya takut membahayakan otot dada dan perutnya,  atau merusak pita suaranya.  Ketika dia mulai tantrum,  saya biarkan sebentar,  lalu dekati,  peluk,  tanpa bicara soal keinginan dia (yang membuat dia jadi tantrum), bila dia menolak dipeluk,  saya biarkan lagi sebentar,  lalu peluk lagi, begitu terus sampai kemudian betul-betul saya gendong dan mengalihkan perhatiannya ke objek yang dia suka,  misal,  baca buku,  beli kue,  dan lainnya. Bagi saya, cara ini berhasil,  karena tantrum kadang disebabkan anak yang pingin perhatian saja,  atau pingin nunjukin ego saja.  Yang penting, tidak menuruti kemauannya saat itu juga.

Cara saya ini salah menurut teori parenting menghadapi tantrum?  Iyezz,  salah dari sudut pandang itu,  tapi di keluarga saya,  cara ini bahkan berhasil memperpendek masa tantrum,  dan meminimalisir tantrum anak kedua dan ketiga saya.  Anak kedua saya malah gak tantrum kayak kakaknya.  Saat dia mulai nunjukin egonya,  saya segera peluk dan sayang untuk mencegah tantrumnya muncul.  Nah,  ini ternyata membuat dia jadi pribadi yang lebih tenang. Cara saya,  mungkin tidak cocok diterapkan di keluarga anda,  jadi,  temukanlah cara anda sendiri,  yang landasannya adalah kasih sayang,  bukan hukuman.  Ingat,  dia adalah anak anda,  yang anda kandung susah payah,  dan nyaris mati melahirkannya.

Jadi,  bila anda membaca sebuah teori parenting,  janganlah menelannya begitu saja.  Endapkan dulu di diri anda,  renungkanlah dulu,  teori itu cocok apa tidak untuk diterapkan di keluarga.