Mengapa Seharusnya Anda Memasukkan Anak ke Kelas Menulis Kreatif Bila Ia Lemah Dalam Matematika?

Menulis kreatif? Apa gunanya untuk anak saya, toh anak saya tidak punya bakat.

Pernyataan macam begini cukup sering mampir ke saya. Umumnya menulis itu memang dianggap sebuah bakat, bukan kebisaan. Beda dengan bicara. Tak ada yang bilang kalau kemampuan bicara itu sebuah bakat. Kita menganggap kemampuan berbicara adalah sesuatu yang natural sifatnya. Kamu punya pita suara, kamu mendengarkan orang bicara, kamu menirukan suara-suara, lalu, taraaa, kamu bisa bicara.

Beda dengan menulis. Entah kenapa orang menganggapnya sebagai bakat. Mungkin karena kegiatan menulis diasosiasikan dengan menulis cerpen dan puisi. Padahal, sesungguhnya kemampuan menulis terkait dengan kebisaan, bukan bakat. ada perbedaan antara bisa dengan bakat.

Mereka yang berbakat,  sudah pasti bisa,  sementara mereka yang bisa,  belum tentu punya bakat.  Saya akan memberi contoh.

Manusia, bila tak punya kendala medis apapun, umumnya bisa bicara. Apakah itu artinya manusia punya bakat bicara?  Tentu kita tidak menyebutnya demikian.  Kita tidak mengatakan,  kemampuan kita bicara sebagai sebuah bakat. Itu adalah sebuah kebisaan.  Lalu,  dimana letak bakat dalam berbicara?  Letaknya ada pada kemampuan alami dalam berorasi dan meyakinkan orang lain. Kemampuan bicara adalah sebuah kebisaan,  tapi,  kemampuan berorasi dan meyakinkan orang adalah sebuah bakat.

Secara khusus,  menulis pun demikian.  Menulis,  adalah sebuah kebisaan.  Kreativitas dalam menuliskan sesuatu, sehingga bisa menghasilkan sebuah tulisan yang berlekuk liku, bisa menciptakan bentuk-bentuk baru penulisan, adalah sebuah bakat. Di situ bedanya.

Menulis Kreatif, Haruskah?

 

Pada usia 8-18 tahun,  terjadi pematangan berbagai fungsi otak,  di antaranya,  penalaran kritis,  kemampuan berpikir umum dan khusus,   kemampuan memprioritaskan,  keberanian mengambil risiko,   dan kemampuan memecahkan masalah secara kreatif. Ada juga aspek-aspek Kemampuan emosional yang berkembang,  di antaranya pengendalian diri. Kedua belahan otak berkembang bersama-sama.  Tidak ada bagian otak yang bisa berkembang sendirian.  Kemampuan penalaran matematis,  misalnya, ada di area abstrak otak.  Tetapi,  area abstrak baru bisa aktif maksimal,  bila area bahasa juga berkembang baik.  Jadi,  jika orang tua ingin anak pintar matematika,  orang tua harus membantu area abstrak otak anaknya berkembang terlebih dahulu. Untuk mengaktifkannya,  anak mesti banyak membaca dan menulis.

  1. Saat anak membaca, ia akan mencerna sebuah gagasan dengan imajinasinya.
  2. Saat anak menulis, ia akan membayangkan sebuah gagasan di imajinasinya, lalu menuliskannya.

Kegiatan mencerna dan mengungkapkan imajinasi inilah yang mengaktifkan area abstrak.

Lalu apa hubungannya dengan matematika? Saat anak menemukan persoalan matematis,  dia terlebih dahulu akan mengimajinasikan persoalan itu di pikirannya, setelah itu baru bisa memikirkan solusinya. Nah, bagaimana seorang anak bisa handal matematika jika area abstrak otaknya tidak pernah dilatih?Perhatikan hasil Tes PISA tiap negara. Negara yang siswa-siswanya memiliki skor tinggi dalam pelajaran matematika, juga punya skor tinggi dalam pelajaran bahasa. Sebaliknya, negara yang siswanya memiliki skor rendah dalam matematika, seperti Indonesia, skor bahasanya juga rendah.

Jadi, jika anda merasa anak anda agak lemah dalam matematika, jangan buru-buru memasukkan ia bimbel matematika, karena masalah dia boleh jadi tidak di soal matematika. Tapi, ada pada area abstrak otaknya yang kurang aktif. Solusinya? Bawa dia ke toko buku, dan berikan dia pelajaran menulis kreatif.