Saya Tidak Pintar, Tidak Kompeten, Bagaimana Saya Bisa Mengajar Anak?

Pertanyaan ini sering terlontar setiap kali topik homeschooling mengemuka. Kebanyakan orang tua berpikir kalau mereka menyelenggarakan homeschooling maka mereka harus menguasai seluruh pelajaran di sekolah. Mulai dari cara membuat puisi, menyelesaikan persoalan algoritma, sampai memahami Teori Gravitasi Newton. Orang tua berpikir menyelenggarakan hs sama artinya menjadi super teacher bagi anak. Homeschooling dianggap sebagai metode belajar yang seluruh proses belajar mengajarnya ditangani orang tua.

Padahal tidak mesti begitu.

Bagi saya pribadi, hal pertama yang perlu dipahami adalah, orang tua yang menyelenggarakan homeschooling tidak berarti ia harus menjadi super teacher alias menangani seluruh proses belajar mengajar anaknya. Dalam hidup ada yang namanya evaluasi diri dan refleksi. Sebelum memulai hs anda evaluasi dulu kekuatan anda dimana, kekurangan anda apa saja. Setelah ketemu, anda lakukan refleksi, apakah kekuatan anda ini bisa menjadi sumber daya untuk menyelenggarakan hs? Apakah ada di antara kekurangan anda yang bisa diperbaiki? Apakah ada kekurangan yang sulit anda perbaiki? Setelah anda memahami kekuatan dan kekurangan diri anda, baru anda bisa secara jelas memilih dan memilah mana pelajaran anak yang bisa anda tangani sendiri, dan mana yang butuh bantuan orang lain.

Kedua, setelah anda mendata kekurangan ini, coba pikirkan satu jalan keluar. Apakah kekurangan anda ini bisa ditebus dengan bergabung dalam sebuah komunitas? Jika ya lakukan. Anak bisa belajar dalam kelompok-kelompok belajar mandiri kan? Bila tidak, silakan saja membawanya ke lembaga kursus. Saya pribadi membawa anak saya mempelajari hal yang tidak saya pahami, ke ahlinya. Mereka belajar musik dengan musisi benaran, belajar menggambar dengan pelukis benaran, dan belajar tari dengan penari benaran. Saya tidak memposisikan diri sebagai si segala bisa karena saya memang tidak bisa banyak hal. Ya, anak-anak memang bisa mempelajari itu semua dengan teknologi, melalui video tutorial, tapi saya tidak menginginkan itu, sebab, yang saya cari dari seorang guru bukan keahliannya saja, tapi persistensinya, keteladanannya, caranya bersikap. Itu sesuatu yang tidak bisa digantikan teknologi. Terkadang, seorang murid bisa melakukan sesuatu justru karena faktor intrinsik dalam diri gurunya, seperti kesabaran.

Ketiga, orang tua cukup memahami hal-hal paling mendasar dalam pelajaran saja. Hal-hal paling mendasar itu ada dua, soft skill dan hard skill. Soft skill antara lain kegigihan belajar, kreativitas, kesabaran, dan cara bersikap. Hard skill itu antara lain kemampuan literasi dan kemampuan numerasi. Soft skill dipelajari anak melalui interaksi yang terjadi. Jika saat belajar orang tua menemani dengan sabar, tidak mudah marah atau kesal, dengan sendirinya anak pun akan lebih sabar dan gigih dalam pelajarannya. Hard skill dipelajari anak melalui materi-materi belajar.

Keempat, untuk poin hard skill berupa kemampuan literasi dan numerasi, diajarkan dari konsepnya. Ajarkan semuanya dari yang paling sederhana dan paling dekat dengan anak. Mengajar anak membaca dimulai dari membacakan buku cerita terus menerus, setiap hari padanya. Kenalkan huruf-huruf melalui bacaan tersebut. Mengajar numerasi dimulai dari mengajarkannya menghitung segala yang ia lihat di rumah.

Kelima, orang tua mesti fokus pada substansi pelajaran. Substansi pelajaran bahasa adalah supaya anak bisa menyampaikan gagasannya dengan baik melalui lisan dan tulisan. Fokus di sini supaya anda tidak terjebak kebingungan mau ngajar apa. Substansi pelajaran matematika supaya penalaran matematisnya berkembang. Jika anda fokus di substansi, anda akan melihat homeschooling tidaklah serumit yang dibayangkan.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.