Sekilas Konsep Pendidikan Menurut Ibn Miskawayh

Beberapa tahun belakangan ini di Indonesia populer sebuah konsep pendidikan yang disebut konsep pendidikan Islamiah, ada juga yang menyebutnya nabawiyah.  Apapun nama konsepnya,  umumnya bila saya baca-baca, sepertinya mengacu atau kalau pun tidak,  mirip dengan Ta’dib Al Akhlak karya filsuf pendidikan Islam,  Ibnu Miskawayh,  yang hidup pada abad 8 M.  Filsafat pendidikan Ibn Miskawayh (selanjutnya saya sebut IM saja) menjadi kanon dalam dunia filsafat pendidikan,  bukan cuma di kalangan muslim saja,  tapi juga non muslim (Eropa-Amerika). Ta’dib Al Akhlak sudah beberapa kali diterbitkan di Indonesia oleh penerbit yang berbeda. Jadi,  sepertinya bukan hal yang sulit menemukannya.  Di perpustakaan kampus saya,  UIN Imam Bonjol,  anda juga bisa menemukan buku ini.

Konsep Pendidikan IM

IM menitikberatkan pendidikannya pada soal akhlak,  karena itu orang kerap menyebut filsafat pendidikannya sebagai filsafat pendidikan akhlak. Bila disimak,  ada keterkaitan antara filsafat akhlaknya dengan filsafat Etika Aristoteles,  namun, jelas  IM memiliki perbedaan, yakni, penekanannya pada Alquran dan hadis.

Bagi IM,  mendidik itu berarti memasukkan suatu adab ke dalam diri peserta didik. Apa itu adab?  Tidak ada padanan yang pas dalam bahasa Indonesia untuk kata adab ini. Sebagian orang menyamakan adab dengan akhlak,  padahal,  akhlak (baik)  adalah bagian dari adab.

Pendek kata,  adab adalah seluruh perilaku terhormat. Jadi,  jika ada perilaku tidak terhormat,  kita tidak bisa menyebutnya sebagai adab buruk,  yang tepat akhlak buruk.  IM sendiri menyebut akhlak yang tidak terpuji ini sebagai khuluq.

Tujuan penting pendidikan bagi IM adalah kebajikan yang dilakukan secara as saadah.  As saadah ini pengertiannya,  bahagia,  sadar,  senang,  berhasil,  indah. Jadi,  semua perbuatan baik yang dilakukan betul-betul muncul secara spontan,  sadar,  dan mendatangkan kebahagiaan. Kebajikan itu menyatu dalam diri seorang menusia,  mengalir dalam setiap urat darahnya.  Jika saat melakukan kebaikan ia masih menimbang-nimbang,  terpaksa,  terbebani,  dan belum menimbulkn perasaan senang dan layak,  maka,  kebaikan itu belum menyatu dalam dirinya.  Ia perlu berlatih terus menerus.

Bagi IM, pendidikan itu harus meliputi empat hal,  akhlak kepada Allah,  kepada diri sendiri,  kepada manusia dan kepada lingkungan.  Sementara sasaran pendidikan akhlak itu adalah pikiran,  nafsu syahwat badani dan sifat.  Bagaimana melatihnya?  Ada satu cara,  yakni dengan melihat kecederungan jiwa.  Dalam hal ini,  bagi IM sangat penting seorang pendidik memiliki pemahaman akan psikologi.  Bila pendidik paham,  ia akan bisa meraba kecenderungan jiwa anak didiknya.

Pemikiran IM ini cukup luar biasa,  terutama hingga berabad-abad setelahnya,  tidak ada yang mengaitkan pendidikan dengan psikologi.  Hal ini baru disadari jelang abad modern,  hingga akhirnya muncullah ilmu baru yaitu psikologi pendidikan.

Siapa Ibn Miskawayh

Ibn Miskawayh merupakan cendekiawan besar Islam yang berasal dari Iran. Sebagaimana banyak cendekiawan Islam lainnya,  bidang ilmu yang ia kuasai beragam,  mulai dari filsafat,  kedokteran,  sejarah,  biologi sampai sastra.  Namun,  ia lebih dikenal sebagai filsuf berkat karya-karya monumentalnya seperti Ta’dib al Akhlaq yang terus bertahan pasca kematiannya 1200 tahun lalu. Ta’dib Al Akhlaq sendiri banyak dikaji di berbagai universitas di dunia.  Saya menyimpan cukup banyak hasil riset cendekiawan barat yang dimuat di berbagai jurnal ilmiah tentang karyanya ini.  Buku-buku bagus memang serupa mata air yang tidak pernah kering