Sekilas Metode Charlotte Mason

Dulu saya pernah menulis sekilas tentang tiga konsep pendidikan yang umum digunakan di dunia saat ini,  yakni Charlotte Mason,  Montessori dan Waldorf.  Nah,  karena tulisan itu hilang,  karena data web ini sempat dihapus sama penyedia layanan karena nyepam terus-terusan (kayake kena virus), saya akan menulis ulang tulisan tersebut satu-satu.  Kali ini saya akan membahas konsep pendidikan Charlotte Mason.

 

Kalau dibaca dari vol 6 Filsafat Pendidikan Charlotte Mason,  saya menyimpulkan konsep ini lahir dari kegelisahan Charlotte Mason atas kondisi dunia pendidikan saat itu yang material-pragmatis oriented,  pasca meluasnya darwinisme di Eropa.  Bagi CM,  pendidikan itu seharusnya tidak melatih fisik semata, tapi juga jiwa. Bagi CM,  anak tidak terlahir baik atau buruk,  tapi dengan kemungkinan menjadi salah satunya.  Dengan begitu, faktor nurture atawa pengasuhan,  mendapat tempat yang sangat penting bagi CM.

Setidaknya ada 7 hal yang bisa saya simpulkan dari Filsafat Pendidikan Charlotte Mason ini.

1. Orang dewasa memiliki otoritas terhadap anak, namun sifatnya terbatas. Apa batasannya?  Ya anak-anak itu sendiri.  Sebagai individu merdeka,  anak tidak boleh disetir-setir.  Semua kebaikan harus berkembang atas kesadaran mereka sendiri.

2. Ada tiga instrumen penting dalam CM,  yakni lingkungan pendidikan,  kedisiplinan dan ide-ide yang hidup dan bergerak.  Lingkungan pendidikan yang baik akan memacu perkembangan anak jadi maksimal.  Kedisiplinan akan melahirkan kebiasaan, membentuk fisik dan pikiran,  sementara ide-ide yang hidup dan bergerak, akan memberi motivasi,  inspirasi, pengetahuan.

3. Jika makanan sehat penting untuk tubuh,  maka ide-ide yang baik,  penting untuk jiwa.  CM sangat mementingkan buku yang disebut living book,  atawa,  dalam terjemahan saya (soale saya membaca versi Inggrisnya), buku yang bernyawa.  Apa itu buku yang bernyawa?  Yaitu buku yang memuat ide-ide cemerlang,  ditulis dengan bahasa sastrawi.  CM sendiri punya daftar buku-buku bernyawa ini.  Kalau saya lihat,  semuanya adalah buku luar, seperti Charlotte Web dan Little Princess.  Tapi,  pas saya tanya teman-teman di komunitas CM,  kata mereka,  sekarang sedang disusun daftar living book yang ditulis penulis Indonesia.  Ok,  ini keren sekali. Karena, banyak buku anak  bagus yang dihasilkan penulis Indonesia, selain itu  membaca buku berlatar Indonesia akan membuat anak dekat dengan akarnya sendiri.

4. Jiwa anak itu bisa dikatakan nyaris unlimited,  dengan begitu,  bukan cuma bisa memahami ide-ide fisik,  tapi juga memahami hal yang bersifat spiritual. Bukan apa yang dipelajari anak yang penting,  tapi bagaimana mereka mempelajarinya.

5. Pendidikan itu sesungguhnya ilmu relasi. Sebuah ide tidak akan bisa sampai dengan baik,  jika tidak terbangun relasi yang bagus antara anak dan gurunya

6. Saat menyusun materi belajar,  pendidik perlu memerhatikan tiga hal: harus ada pengetahuan baru yang didapat anak,  pengetahuan ini harus beragam,  dan harus disampaikan dalam bahasa yang dipahami anak.

7. Bagi CM,  pengetahuan baru akan menyatu dalam diri anak jika pengetahuan itu direpro.  Dengan demikian,  menceritakan ulang apa yang sudah didengar atau dibaca,  penting dalam proses belajar mengajar CM.

 

Di Indonesia sudah ada komunitas CM ini. Penggeraknya adalah Mbak Ellen Kristi.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.