Tujuh Puisi Cinta Sebelum Perpisahan

 

Apa yang terjadi, ketika cinta yang hadir dalam pernikahan, retak dan pecah seiring waktu berjalan? Evan dan Kinan baru menikah dua tahun dan dengan segera mereka melihat banyaknya ketidakcocokan sejak tahun pertama. Benar kata orang, jangan menaruh harapan terlalu tinggi pada pasanganmu, atau kau kecewa.
Pertengkaran demi pertengkaran datang, hingga akhirnya mereka berdua merasa lelah. Menjelang ulang tahun pernikahan yang kedua, Evan mengajukan perceraian.

Kinan setuju Evan mengajukan gugatan dengan syarat, mereka akan membicarakan lagi hal-hal apa yang dulu membuat mereka tertarik satu sama lain. Sekadar untuk mengenang hal-hal manis, sebelum nanti mereka berpisah dan saling melupakan untuk selamanya. Kinan meminta Evan membacakan tujuh puisi cinta yang dulu ia buat. Satu puisi setiap hari.Kedengarannya sederhana, tapi itu membuat semuanya berubah.

 

Komentar pembaca di Goodreads

~Kurnia~

Membaca novel ini, saya memosisikan diri sebagai penulis amatir yang belajar dari karya penulis yang saya kagumi. Masih hangover sebenarnya. Masih bingung harus memulai dari mana. Bagaimana sebuah tulisan bisa memiliki ruh, saya tak salah belajar banyak dari karya Mbak Maya Lestari.

Sejak pertama kali membaca Amore: Love Interrupted 3 atau 4 tahun silam, saya sudah yakin harus berguru kepada beliau lewat karyanya. Jadi tidak salah ketika saya memutuskan untuk mengoleksi karya-karya beliau.

Sama halnya novel Tujuh Puisi Cnta Sebelum Perpisahan, adalah novel genre romansa yang teramat mengikat saya ketika membacanya. Saya memang agak vakum baca novel romansa karena sempat kehilangan minat, baru sebelum ramadan kemarin mencoba kembali membaca genre ini, dan berakhir sedikit mengecewakan. Namun tidak dengan novel ini.

Tujuh Puisi Cinta Sebelum Perpisahan membuat hasrat belajar menulis kembali hadir. Saya percaya, karya apa pun jika dilakukan dengan sungguh-sungguh, dengan ketulusan hati, akan memberikan kesan yang mendalam, bermakna, dan memiliki ruh yang akhirnya bisa menggetarkan jiwa. Entah karena pengaruh hormon atau memang terasa amat menyedihkan, saya dibuat mewek! Sungguh-sungguh mewek.

Secara teknis, tentu saja saya sudah yakin Mbak Maya tetap menghadirkan kekhasan karakter tulisan beliau yang rapi, indah, dan puitis. Ditambah novel ini disisipi tujuh puisi yang diwakili oleh para tokoh utamanya. Duh, tokoh-tokohnya juga membuat saya jatuh cinta. Juga latar tempat Padangpanjang, mampu menghipnotis saya akan kemegahan Gunung Singgalang, aroma tanahnya yang subur, udaranya yang sejuk dan dingin, magis dan melankolis.

Ah, saya jadi lupa mau menjelaskan tentang ceritanya, yang jelas, saya tidak bisa memilih antara Kinandari atau Evan Muhammad. Mereka sama-sama menderita, mereka sama-sama membuat saya empati. Dari mereka pula dan nasihat-nasihat tokoh-tokoh pendukungnya, saya menjadi yakin menikah adalah soal tidak menyerah belajar dan berjuang. Terima kasih telah membuat saya kembali belajar: menulis sekaligus menjadi bagian sisi terpenting dalam rumah tangga saya secara pribadi.

Seperti yang dikatakan Kinan, di antara banyaknya nasihat pernikahan yang ada di novel ini, bahwa …
Segitiga sama sisi: Suami-Istri-Tuhan. Ketika suami dan istri menjadikan Tuhan sebagai pegangan, maka segalanya akan terasa mudah. Suatu saat Tuhan akan membukakan jalan, Itulah segitiga sama sisi perkawinan. Segitiga yang setiap sudutnya tidak akan bisa bergeser dan berubah.

Terima kasih Mbak Maya. Tetap semangat berkarya!

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.